Hindari Penumpukan Siswa di Sekolah Favorit, Akademisi Ummat Minta Pemda Patuhi Juknis SPMB
Mataram (NTBSatu) – Menjelang pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, pengawasan terhadap sekolah favorit di Kota Mataram menjadi sorotan. Pasalnya, sekolah dengan jumlah peminat tinggi dinilai berpotensi kembali menerima siswa melebihi kuota yang telah ditentukan.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Muhammad Nizar mengingatkan pemerintah daerah (pemda), khususnya dinas pendidikan, agar pelaksanaan SPMB benar-benar mengacu pada petunjuk teknis (juknis).
Menurutnya, secara kebijakan kuota penerimaan siswa baru di sekolah negeri sebenarnya sudah pemda tentukan berdasarkan ketersediaan masing-masing sekolah. Namun dalam praktiknya, pemda kerap tidak mematuhi aturan tersebut.
“Fenomena penumpukkan siswa di sekolah favorit jelas merupakan suatu ketimpangan. Secara kebijakan oleh dinas sebenarnya kuota siswa baru sekolah negeri sudah ditentukan. Namun sering kali tidak dipatuhi, karena orientasi sekolah juga mencari keuntungan dari sisi finansial,” ujarnya kepada NTBSatu, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menilai, kondisi itu perlu menjadi perhatian serius menjelang SPMB tahun ini. Mengingat, persoalan penambahan kuota di sekolah favorit berulang hampir setiap tahun. “Perlu ada kontrol dari dinas dan komitmen bersama dinas dan para kepsek (kepala sekolah) ,” katanya.
Muhammad Nizar mengatakan, penumpukan siswa di sekolah favorit tidak hanya berdampak pada kualitas pembelajaran di sekolah tersebut. Tetapi juga memengaruhi sekolah lain yang jumlah peminatnya rendah, termasuk sekolah swasta.
“Internal sekolah akan bermasalah pada ketersediaan sarpras (sarana dan prasarana) dan beban mengajar guru semakin besar. Jumlah kelas banyak, bahkan menggunakan ruangan laboratorium untuk kelas. Jumlah siswa dalam kelas juga gemuk, maka kualitas pembelajaran tidak bisa maksimal,” ujarnya.
Sekolah Swasta Mengeluh
Ia menyebut, praktik penambahan kuota setelah masa penerimaan siswa baru selesai juga kerap sekolah swasta di Kota Mataram keluhkan, Sebab, siswa yang awalnya tidak keterima di sekolah negeri dan dinas mengarahkan ke sekolah swasta, akhirnya kembali ke sekolah negeri setelah membuka tambahan kuota.
“Siswa yang tertolak harapannya bisa masuk di sekolah swasta, tetapi ternyata beberapa sekolah negeri memperpanjang penerimaan siswa baru,” katanya.
Karena itu, ia mendorong dinas pendidikan tidak hanya fokus pada pengendalian kuota, tetapi juga menyiapkan solusi agar siswa tetap tertampung tanpa harus memusat di sekolah tertentu.
Menurutnya, salah satu langkah yang bisa dinas lakukan adalah mendorong setiap sekolah memiliki keunggulan dan ciri khas masing-masing, sehingga masyarakat tidak hanya berorientasi pada sekolah favorit.
“Dinas pendidikan harus merancang sekolah punya keunggulan masing-masing. Sehingga, masyarakat punya banyak pilihan sekolah favorit sesuai ciri khas masing-masing sekolah,” ujarnya. (Caca)




