Nasional

Terinspirasi dari Lombok Barat, BGN Pilih Optimalkan Kantin Daripada Dapur MBG Baru

Mataram (NTBSatu) – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, mengaku mendapat inspirasi dari keadaan riil sekolah di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal ini berkaitan dengan pengoptimalan kantin sekolah daripada membangun dapur baru untuk wilayah terpencil.

Nanik mengambil langkah efisiensi berskala nasional ini karena menilai pembangunan dapur gizi baru tidak rasional. Apalagi menerapkan langkah ini pada sekolah dengan jumlah siswa yang terbatas.

“Di tempat terpencil itu, saya misalnya di Lombok, di Lombok Barat. Saya pernah ke satu pulau muridnya hanya 119, kan tidak mungkin juga mendirikan dapur. Tapi di situ ada kantin, jadi bisa dong menggunakan kantin itu,” ujarnya, mengutip YouTube Sekretariat Negara, Jumat, 12 Juni 2026.

IKLAN

Keadaan di Lombok Barat memperlihatkan bahwa membangun dapur baru dengan kapasitas standar tidak efisien jika jumlah muridnya di bawah 150 anak.

Oleh karena itu, BGN menetapkan kebijakan moratorium atau penghentian sementara pembangunan fisik dapur gizi baru di tingkat nasional. Hal ini bertujuan menata ulang anggaran agar tidak membebani APBN.

Solusi untuk Wilayah Terpencil

Kunjungan ke wilayah Lombok Barat membuka ruang bagi BGN, melihat kantin sekolah berpotensi besar sebagai fasilitas penyalur MBG.

IKLAN

Nanik menilai, pola alternatif yang terinspirasi dari Lombok Barat ini jauh lebih rasional diterapkan di wilayah-wilayah dengan karakteristik serupa.

Selain pemanfaatan kantin seperti contoh kasus di Lombok Barat, BGN juga merancang skema kerja sama. Konsep ini menggunakan fasilitas dapur umum milik program tanggung jawab sosial perusahaan yang sudah eksis di daerah terpencil. Sehingga nantinya, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada dana pusat.

“Jadi kantin ini salah satu alternatif begitu. Jadi ada alternatif-alternatif, tidak harus membangun dapur baru,” lanjutnya.

Orientasi Mutu Pelayanan

Menurut Nanik, pelajaran dari Wilayah Lombok Barat secara langsung akan mengubah orientasi kerja BGN. Di mana target capaian tidak lagi berfokus pada kuantitas pembangunan fisik dapur, melainkan pada kualitas layanan intervensi gizi.

Oleh karena itu, Nanik memastikan adopsi sistem kantin sekolah dari Lombok Barat, akan tetap berjalan sesuai dengan petunjuk teknis nasional.

Standar menu dan kandungan gizi pada tiap kantin alternatif sudah pasti akan tetap mendapat pengawasan dari Dewan Pengarah BGN. Termasuk dengan melibatkan para pakar gizi serta dokter spesialis anak. (*)

Artikel Terkait