Internasional

Tenun Songket Lombok Tembus Panggung Fesyen Internasional di JF3 2026

Mataram (NTBSatu) – Tenun songket khas Lombok menarik perhatian, setelah kolaborasi desainer lintas negara berhasil menampilkan pesonanya pada ajang JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

​Ajang fesyen ini turut mengabadikan momen ini melalui unggahan resmi akun media sosial resmi JF3. Dalam keterangan resminya, mereka menyebut ajang ini merupakan kolaborasi desainer Indonesia dan Prancis.

“Menandai debut mereka di panggung peragaan, GARUDA dan AU LARGE lahir dari desainer PINTU Residency. Tempat para desainer Indonesia dan Perancis terlibat dalam dialog kreatif bersama,” tulisnya, mengutip akun Instagram @jf3_info pada Rabu, 29 Juli 2026.

IKLAN

Koleksi bertajuk “Garuda” ini lahir dari kolaborasi desainer asal Prancis, Mickaël Nana, dan desainer Indonesia, Beatrice Angelica. Kedua perancang busana tersebut mengeksplorasi material tenun dan songket Lombok buatan perajin lokal.

Selanjutnya, mereka memadukannya secara apik dengan bahan modern seperti denim dan beludru.
​Salah satu tampilan di atas panggung peragaan (runway) menarik perhatian pengunjung ketika seorang model membawakan atasan bernuansa modern bertuliskan “Lombok”.

Atasan tersebut terlihat apik saat memadukannya secara harmonis dengan bawahan berunsur wastra Nusantara.

Eksplorasi Teknik Tekstil Tradisional

Penampilan 10 rancangan busana pria dan wanita tersebut sebagai buah manis dari program Pintu Residency 2026. Program ini mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis selama sekitar empat bulan untuk menggali potensi serta teknik tekstil tradisional langsung bersama komunitas perajin lokal di daerah.

​Melalui rilis resminya, JF3 menguraikan momen ini sebagai eksplorasi terhadap identitas melalui penataan busana.

“Garuda mengeksplorasi identitas melalui penataan busana berstruktur arsitektural dan siluet yang mengalir. Sementara AU LARGE merajut kembali warisan bahari Prancis dan batik Jawa melalui kriya kontemporer,” lanjutnya.

​Integrasi ragam motif songket ke dalam potongan jaket berstruktur tegas, celana panjang modern, hingga pakaian santai membuktikan fleksibilitas kain tradisional Lombok. Unsur budaya daerah tidak lagi tampak kaku, melainkan hadir lebih dinamis sesuai selera pasar global.

Buka Peluang Wastra Daerah ke Panggung Dunia

Pendiri Lakon Indonesia sekaligus co-initiator Pintu Incubator, Thresia Mareta, menegaskan kolaborasi ini bertujuan memperluas sudut pandang para perancang busana dunia terhadap potensi kriya lokal Indonesia.

Sementara itu, JF3 merangkum kegiatan tersebut merupakan kolaborasi menciptakan bentuk baru dari berbagai perbedaan.

“Kolaborasi ini tidak mengaburkan perbedaan, melainkan memberikannya bentuk baru,” tulisnya.

​Inisiatif memboyong warisan budaya Lombok ke ajang bergengsi ini tidak sekadar menaikkan citra fesyen Indonesia di mata dunia. Langkah strategis tersebut sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah.

Oleh karena itu, momen ini sekaligus memberi dorongan nilai tambah bagi keberlanjutan karya para perajin tenun di NTB. (*)

Artikel Terkait