Perdana Menteri Norwegia Pakai Jam Tangan Murah, Begini Reaksi Warganet Indonesia
Mataram (NTBSatu) – Perdana Menteri (PM) Norwegia, Jonas Gahr Store, menuai pujian luas dari warganet Indonesia setelah kedapatan mengenakan jam tangan sederhana. Ia terlihat mengenakan jam tangan Swatch tipe Once Again seharga 84 dolar AS atau sekitar Rp 1,3 juta.
Penampilan kausal pemimpin negara Nordik tersebut terekam dalam unggahan di akun Instagram resminya @jonasgahrs. Selanjutnya memicu tanggapan warganet di X mengenai kontras gaya hidup para pejabat publik.
“Gaya hidup sederhana para pemimpin Nordik ini menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak dibangun di atas simbol kemewahan materi. Melainkan pada integritas dan kepercayaan masyarakat,” mengutip dari akun X @txtkarir pada Rabu, 15 Juli 2026.
Cermin Budaya Kesetaraan Norwegia
Pilihan jam tangan yang bersahaja dari PM Jonas ini merefleksikan nilai-nilai budaya masyarakat Norwegia yang menjunjung tinggi kesetaraan dan kesederhanaan.
Bukan hanya sekali, ia juga tampak terlihat mengenakan jam tangan relatif terjangkau untuk ukuran pemimpin dunia yang harganya berkisar Rp1 jutaan saja.
Langkah para elite politik ini biasanya bertujuan untuk menjaga kedekatan emosional dengan konstituen dan menghindari kesan jarak sosial yang mencolok.
Keadaan tersebut memicu reaksi keras dari warganet Indonesia. Banyak dari mereka langsung membandingkan kesederhanaan para pemimpin Eropa Utara dengan fenomena pamer kemewahan. Kebiasaan ini kerap terlihat pada oknum pejabat pemerintahan di tanah air.
Sindiran Tajam Warganet Tanah Air
Melihat hal tersebut, sejumlah warganet secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap mentalitas pejabat dalam negeri. Mereka menilai masih banyak yang terjebak pada simbol status visual. Salah satu warganet menyoroti mentalitas kekuasaan di Indonesia yang belum sepenuhnya mengadopsi nilai-nilai demokrasi modern.
“Hampir semua pemimpin, aparat, birokrat pejabat di Indonesia, mindsetnya bukan dalam konteks demokrasi. Tapi, mereka ingin menjadi priyayi baru seperti jaman belanda dulu. Punya seragam, punya pangkat, punya kekayaan, dan punya pengaruh adat dan agama,” tulis akun @TheTeachCapital.
Sementara itu, warganet uang lain memberikan komentar lebih keras impresi fisik dari penggunaan barang tersebut secara frontal. “Pejabat Swedia dan Norway pakai arloji 100 ribuan ganteng. Pejabat Indonesia pakai arloji miliaran tetep jelek,” tulis akun @RemajaMusholla.
Kritik warganet tidak hanya menyasar para pejabat secara personal, tetapi juga menyoroti fenomena pamer yang merembet hingga lingkungan keluarga mereka.
“Jangankan pejabatnya kak, di Indonesia mah anak istrinya juga pada pakai barang-barang miliaran,” tulis akun @lifeafterlyfe.
Fenomena ini kembali sebagai pengingat penting bagi publik mengenai urgensi reformasi kultural di lingkungan birokrasi Indonesia. Hal ini agar orientasi pengabdian kembali diletakkan pada pelayanan rakyat, bukan pamer kemewahan materi. (*)




