Headline NewsHukrim

Ragukan Tersangka Tunggal Pembunuhan Anaknya, Ibu NDR: Tidak Ikhlas Dunia Akhirat

Mataram (NTBSatu) – Pihak keluarga NDR, mahasiswi Universitas Mataram (Unram) yang meninggal di kamar kosnya, meragukan penetapan tersangka baru-baru ini oleh pihak kepolisian.

Ibu NDR, Eni Widyawati menilai, ada sejumlah kejanggalan. Mulai dari motif aksi yang mendadak disimpulkan sebagai pencurian. Selain itu, kejanggalan selanjutnya karena adanya ketidakcocokan antara kronologi pengakuan tersangka dan hasil autopsi awal.

Eni menyoroti perbedaan mencolok antara temuan awal kepolisian dan pengakuan terbaru dari tersangka. Pada pemeriksaan awal, olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) tidak menunjukkan tanda-tanda pembobolan, sementara keadaan kamar korban masih teratur.

IKLAN

Hal tersebut sempat mengarahkan spekulasi awal pada keterlibatan orang dekat yang mengenali situasi kos korban.

“Sebenarnya kita senang ya, karena sedikit membuka tabir pelakunya. Tapi saya merasa dia bukan pelaku tunggal,” ujar Eni kepada NTBSatu pada Kamis, 30 Juli 2026.

Namun, penetapan tersangka saat ini justru mengarah pada sosok yang tidak dikenal dekat oleh keluarga. Selain itu, narasi yang berkembang menyebutkan aksi tersebut murni pencurian tunggal.

​”Sebelumnya tidak ada yang mengarah ke pencurian. Tapi lebih ke orang terdekat yang tahu seluk-beluk kos,” tegasnya.

Ketidakcocokan Hasil Autopsi dan Pengakuan

Keluarga NDR juga menemukan janggalnya pernyataan tersangka yang mengaku membunuh secara refleks menggunakan bantal. Pengakuan spontan ini bertolak belakang dengan indikasi awal autopsi yang merekam adanya luka akibat benturan keras di kepala.

Selain itu, Eni mengatakan hasil autopsi awal menemukan adanya keretakan pada tulang leher korban akibat cekikan.

​”Hasil autopsi yang sempat kita dengar itu kan ada benturan di kepala dan retak di leher karena cekikan. Ketika beredar kabar pengakuan pelaku bahwa dia refleks lalu menutup pakai bantal, kan ini sudah enggak sinkron,” lanjutnya.

​Keraguan pihak keluarga semakin menguat karena tersangka yang tertangkap saat ini berbeda dari sosok yang pernah muncul dalam petunjuk lain sebelum penangkapan.

Desakan Penyelidikan Tuntas

Keluarga menegaskan agar kepolisian tidak terburu-buru menutup kasus hanya dengan satu tersangka. Penyelidikan mendalam perlu terus berlanjut untuk membongkar kemungkinan adanya aktor lain di balik peristiwa keji ini.

​”Sebagai ibu korban, dalam hati saya saat ini, saya sama sekali enggak rela ketika pelaku utama ini enggak ketahuan. Enggak ikhlas dunia akhirat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Mataram, KP I Made Dharma YP, Sebelumnya sempat mengungkap penyebab kematian NDR karena pelaku membekap wajah korban menggunakan bantal.

“Karena panik, terduga mendorong korban hingga terjatuh di kasur, kemudian menindih dan membekap mulut serta hidung korban menggunakan bantal sebelum membawa kabur sepeda motor milik korban,” jelasnya, Kamis, 30 Juli 2026.

​Hingga saat ini, pihak keluarga kini berharap tim Polresta Mataram bergerak lebih jauh dan transparan dalam melakukan pendalaman kasus. Sehingga nantinya penanganan hukum benar-benar menuntaskan seluruh tabir pembunuhan tersebut hingga ke akar-akarnya. (*)

Artikel Terkait