Sumbawa

PUSKAP Sumbawa Sebut Pengelolaan Sampah Plastik dari CFD Samota Jalan di Tempat

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Kawasan Car Free Day (CFD) Samota yang selama ini menjadi pusat aktivitas olahraga, wisata, dan ekonomi masyarakat ternyata menyisakan persoalan lingkungan yang serius. Penelitian terbaru mengungkap, dari kegiatan itu menghasilkan sekitar 70 persen sampah. Dengan dominasi sampah plastik sekali pakai.

‎Temuan itu dipaparkan Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan (PUSKAP) Sumbawa dalam ekspose hasil penelitian. Kegiatan ini berlangsung di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Riset Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, belum lama ini.

‎PUSKAP Sumbawa melaksanakan penelitian itu sejak Maret hingga Juni 2026. Penelitian ini mengkaji pola timbulan sampah, perilaku masyarakat, serta tata kelola pengelolaan limbah di kawasan CFD Samota.

IKLAN

Hasilnya menunjukkan, botol minuman, gelas plastik, kantong kresek, hingga kemasan makanan menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan.

‎Peneliti Utama PUSKAP Sumbawa, Dr. Sri Rahayu, MM, menilai persoalan utama bukan hanya pada banyaknya sampah plastik dari kegiatan itu. Namun juga pada cara pandang masyarakat terhadap sampah itu sendiri.

‎”Masyarakat masih melihat sampah sebagai limbah yang harus mereka buang. Bukan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Padahal, jika kita kelola dengan baik, sampah dapat menjadi peluang usaha dan sumber pendapatan masyarakat,”ujar Sri Rahayu, Kamis 18 Juni 2026.

IKLAN

Gunakan Pola Konvensional

‎Menurut Sri Rahayu, pengelolaan sampah di CFD Samota hingga kini masih menggunakan pola konvensional berupa kumpul, angkut, dan buang ke tempat pembuangan akhir. Pola tersebut belum dibarengi sistem pemilahan, pengolahan, maupun pemanfaatan ekonomi yang berkelanjutan.

‎”Siklus pengelolaan sampah berhenti pada proses pembuangan. Akibatnya, potensi ekonomi dari sampah plastik tidak pernah benar-benar kita manfaatkan,”katanya.

‎Penelitian juga menemukan belum adanya bank sampah aktif, komunitas pengolah limbah plastik, maupun program pelatihan yang secara khusus mendorong pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai tambah di kawasan Samota.

‎Semakin parah dengan minimnya edukasi kepada masyarakat. Sebanyak 87 persen responden mengaku belum pernah mengikuti pelatihan ataupun sosialisasi mengenai pengelolaan sampah berbasis ekonomi kreatif.

‎”Data ini menunjukkan persoalan sampah tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga menyangkut kapasitas dan pengetahuan masyarakat yang masih perlu kita perkuat,” jelasnya

‎Dalam penelitian tersebut, PUSKAP mengidentifikasi tiga faktor utama yang menjadi penghambat pengelolaan sampah di CFD Samota. Pertama, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kedua, keterbatasan sarana pendukung seperti tempat sampah terpilah. Ketiga, belum adanya regulasi yang secara spesifik mengatur pembatasan penggunaan plastik sekali pakai.

‎Selain itu, koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) juga belum berjalan optimal. Selama ini, penanganan sampah lebih banyak bertumpu pada aspek pengangkutan oleh Dinas Lingkungan Hidup. Sementara sektor pemberdayaan ekonomi dan UMKM belum terintegrasi dengan agenda pengurangan sampah.

Tanggapan Pemkab Sumbawa

‎Menanggapi hasil penelitian tersebut, Kepala Bidang pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa, Aryan Perdana Putra, S.Si., menyatakan pemerintah daerah siap memperkuat upaya penanganan sampah melalui pendekatan kolaboratif.

‎”Kami berkomitmen meningkatkan edukasi lingkungan dan memperkuat fasilitas pengelolaan sampah. Kemudian, membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya, agar pengelolaan sampah di ruang publik dapat berjalan lebih efektif,”tegasnya.

‎PUSKAP Sumbawa merekomendasikan tiga langkah strategis untuk mengatasi persoalan tersebut. Yakni memperluas edukasi dan pelatihan pengolahan limbah bagi masyarakat dan pelaku UMKM, membentuk bank sampah serta program daur ulang berkelanjutan. Selanjutnya, membangun tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, serta komunitas.

‎Sri Rahayu menegaskan Samota sebenarnya memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk mewujudkan perubahan.

‎”Budaya gotong royong masyarakat masih sangat kuat. Antusiasme terhadap pelatihan juga tinggi. Ini merupakan modal penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.

‎Ia menambahkan keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran masyarakat, tetapi juga memerlukan keberpihakan kebijakan dari pemerintah.

‎”Yang kita butuhkan saat ini adalah fasilitasi yang berkelanjutan dan kebijakan yang berpihak pada lingkungan. Jika itu kita lakukan, Samota berpotensi menjadi model pengelolaan sampah berbasis ekonomi kreatif di daerah,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait