Pariwisata Samota Berkembang Pesat, Butuh Dukungan Infrastruktur
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Kawasan Samota digadang-gadang menjadi destinasi wisata kelas dunia. Namun, ambisi besar itu masih terkendala lemahnya infrastruktur dan konektivitas antar destinasi wisata unggulan di wilayah tersebut.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, Dedy Heriwibowo mengatakan, kawasan Samota memiliki kekuatan besar untuk mendorong pariwisata NTB menembus pasar internasional. Salah satu magnet utama yang kini menarik perhatian wisatawan mancanegara adalah wisata hiu paus.
“Dalam dua tahun terakhir, kunjungan wisatawan mancanegara meningkat sangat signifikan. Bahkan pada periode tertentu jumlah wisatawan asing lebih banyak dibanding wisatawan domestik,” ujar Dedy, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut Dedy, fenomena tersebut menjadi bukti Samota memiliki daya tarik wisata yang kuat dan mampu bersaing di level global. “Wisata hiu paus menjadi ikon baru pariwisata Sumbawa yang potensinya sangat besar untuk dikembangkan,” katanya.
Selain wisata hiu paus, kawasan Samota juga ditopang destinasi unggulan lain seperti Pulau Moyo dan Gunung Tambora. Pulau Moyo dikenal sebagai destinasi eksklusif kelas dunia, sementara Tambora memiliki nilai sejarah dan geowisata yang mendunia.
“Samota memiliki kombinasi wisata alam, konservasi, sejarah, dan bahari yang sangat lengkap. Potensi ini jarang dimiliki daerah lain,” jelasnya.
Meski demikian, pengembangan kawasan tersebut masih terhambat akses jalan dan transportasi yang belum memadai. Wisatawan harus menempuh perjalanan panjang hingga lima sampai tujuh jam, untuk menikmati rangkaian destinasi di kawasan Samota.
“Kondisi ini tentu melelahkan bagi wisatawan. Karena itu konektivitas antar destinasi menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Dorong Pembangunan Jalan Samota – Dermaga Ai Bari – Tambora
Pemerintah daerah kini mendorong pembangunan jalan Samota menuju Dermaga Ai Bari serta konektivitas ke Tambora. Saat ini, masih terdapat sekitar 1,5 kilometer ruas jalan yang belum terbangun dan menjadi titik penghambat utama jalur wisata tersebut.
“Kalau akses ini tersambung, seluruh destinasi unggulan dapat dijangkau dalam satu jalur wisata yang efisien,” katanya.
Dedy optimistis, pembangunan konektivitas kawasan Samota akan memicu pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir. Kehadiran hotel, vila, resort hingga sektor ekonomi kreatif diperkirakan berkembang seiring meningkatnya arus wisatawan.
“Samota berpotensi menjadi the next Labuan Bajo karena berada di jalur strategis wisata Indonesia Timur,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengembangan kawasan tersebut juga akan memperkuat konektivitas wisata nasional mulai dari Bali, Mandalika, Pulau Moyo, Tambora hingga Labuan Bajo.
Selain pembangunan jalan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa juga mendorong pengembangan transportasi laut dan udara sebagai bagian dari percepatan pembangunan pariwisata berkelanjutan.
“Infrastruktur jalan, pelabuhan, dan transportasi udara menjadi kunci utama untuk menggerakkan ekonomi kawasan sekaligus mendukung pariwisata berkelanjutan,” tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai merintis kawasan konservasi hiu paus berbasis ekosistem guna menjaga keseimbangan antara pengembangan wisata dan kelestarian lingkungan.
Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah telah mengusulkan pembangunan akses jalan dan dermaga pada 2027 mendatang dengan estimasi anggaran mencapai Rp1,5 triliun.
“Pemda sudah menyiapkan lahan pelabuhan. Tinggal menunggu dukungan fiskal pemerintah karena kebutuhan anggarannya memang cukup besar,” tutupnya. (Marwah)




