Sumbawa Besar (NTBSatu) – Proyek hilirisasi ayam terintegrasi senilai Rp1,3 triliun di Kabupaten Sumbawa kian menguat. DPRD Sumbawa menyatakan, dukungan penuh terhadap kolaborasi pemerintah dan swasta yang menjadi kunci percepatan ekonomi daerah.
Dukungan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi tindak lanjut groundbreaking dan penandatanganan MoU proyek di Aula Kantor Bapperida Sumbawa, Selasa, 5 Mei 2026. Pertemuan ini mempertemukan unsur pemerintah daerah, pusat, hingga investor dalam satu meja strategis.
Wakil Ketua I DPRD Sumbawa, Berlian Rayes menegaskan, proyek ini bukan sekadar investasi biasa. Melainkan, momentum besar untuk mendorong transformasi ekonomi daerah.
“Kami melihat ini sebagai langkah strategis. Nilai investasinya besar dan dampaknya juga akan luas bagi pembangunan Sumbawa,” ujar Berlian, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi NTB, Kementerian Pertanian. Serta, investor menjadi fondasi penting dalam memastikan proyek berjalan optimal.
“Sinergi seperti ini yang kita butuhkan. Tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri kalau ingin mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan,” katanya.
Ia yakin, proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini akan memperkuat sektor peternakan unggas dari hulu hingga hilir, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal. “Dengan hilirisasi, kita tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi,” jelasnya.
Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. “Efek lanjutannya jelas, penyerapan tenaga kerja akan meningkat dan ekonomi masyarakat ikut bergerak,” ungkapnya.
Perkuat Distribusi Protein Hewani ke Indonesia Timur
Kabupaten Sumbawa terpilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki sejumlah keunggulan strategis. Salah satunya, sebagai daerah penghasil jagung yang menjadi bahan baku utama pakan ternak.
“Ketersediaan jagung kita melimpah. Ini menjadi kekuatan utama untuk mendukung industri unggas terintegrasi,” katanya.
Di sisi lain, posisi geografis Sumbawa yang strategis mampu memperkuat distribusi protein hewani ke kawasan Indonesia Timur. “Sumbawa punya posisi penting sebagai hub distribusi. Ini peluang besar yang harus dimaksimalkan,” tambahnya.
Berlian juga menyebut, dukungan regulasi daerah menjadi faktor penentu keberhasilan proyek. Termasuk, keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2024 dan Rencana Induk Pembangunan Kabupaten (RIPK) 2024–2044.
“Regulasi sudah kita siapkan. Tinggal bagaimana implementasinya dikawal bersama agar berjalan sesuai rencana,” tambahnya.
Sebagai informasi, proyek ini telah memasuki tahap awal melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026. Harapannya, proyek tersebut menjadi motor penggerak baru bagi ekonomi Sumbawa, sekaligus memperkuat posisi daerah dalam peta industri peternakan nasional. (Marwah)




