NTBPemerintahan

Daging Ayam Ras Pemicu Utama Inflasi NTB, Pemprov Perkuat Rantai Pasok

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memberikan perhatian serius terhadap pergerakan harga komoditas daging ayam ras di pasaran.

Pemerintah mengambil langkah ini setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat daging ayam ras menjadi penyumbang utama terhadap pembentukan inflasi daerah pada Agustus 2026.

Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyuddin, memaparkan keterbatasan produksi peternak lokal dalam mengimbangi lonjakan permintaan pasar. Hal ini menjadi faktor utama pemicu kenaikan harga daging ayam ras.

IKLAN

​”Di samping produsen dari daging ayam ras ini belum mampu mencukupi kebutuhan kita di Nusa Tenggara Barat. Sehingga kita harus mendatangkan dari luar. Ini juga ada andil dari mulainya beroperasi MBG ya,” ujarnya pada Selasa, 1 September 2026.

Tingginya Kebutuhan Musiman 

Laju kenaikan harga komoditas peternakan ini bertepatan dengan melonjaknya aktivitas konsumsi masyarakat di berbagai wilayah kabupaten dan kota. Secara bulanan, Provinsi NTB mengalami inflasi sebesar 0,57 persen pada Agustus 2026. Berbalik dari kondisi deflasi 0,35 persen pada bulan sebelumnya.

Lonjakan permintaan daging ayam ras di tengah masyarakat terjadi seiring berjalannya sejumlah momentum secara bersamaan. Kembalinya operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para siswa usai libur sekolah meningkatkan volume kebutuhan konsumsi harian.

IKLAN

Di sisi lain, maraknya perayaan tradisi keagamaan dan hajatan warga turut mendongkrak permintaan pasar secara drastis. Kondisi tersebut membuat stok hasil ternak lokal tidak mampu menampung lonjakan permintaan yang datang mendadak.

Akibatnya, ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi tak terhindarkan untuk menjaga ketersediaan barang di tingkat pedagang eceran maupun pasar tradisional.

​”Ini sudah di atas range yang pemerintah tetapkan yakni 2,5 persen plus minus 1, artinya kita sudah di atas 3,5 persen. Ini adalah merupakan warning buat kita semua, baik untuk TPID, rekan-rekan juga dari anggota TPID. Termasuk juga kabupaten/kota,” tegasnya.

Strategi Pemprov dan TPID Stabilkan Harga Ayam Ras

​Merespons kondisi tersebut, Pemprov NTB bersama TPID langsung memfokuskan strategi pengendalian harga pada komoditas ternak. Intervensi pasar dilakukan secara terukur melalui pemantauan rantai distribusi dari penyalur hingga ke tingkat pedagang guna mencegah adanya penimbunan maupun kenaikan harga yang tidak wajar.

​Di samping itu, pemerintah daerah mengoptimalkan Kerja Sama Antardaerah (KAD) untuk mempermudah masuknya pasokan tambahan daging ayam ras dari wilayah produsen tetangga.

Pemerintah berharap, langkah koordinasi ini dapat memenuhi lonjakan permintaan masyarakat, menstabilkan harga komoditas ayam ras, serta memperkuat ketahanan pangan di NTB. (*)

Artikel Terkait