Lombok TimurOlahraga

Sembalun Mountain Marathon Festival 2026 Diikuti Pelari dari 17 Negara

Lombok Timur (NTBSatu) – Sembalun Mountain Marathon Festival (SMMF) kembali menghidupkan kawasan Sembalun, Lombok Timur, dengan peserta dari berbagai negara. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, ajang lari ini tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, tetapi juga membawa promosi pariwisata dan potensi ekonomi lokal ke hadapan wisatawan mancanegara.

Ketua Panitia SMMF, Hamka Abdul Malik mengatakan, penyelenggaraan tahun kedua menunjukkan perkembangan dibandingkan pelaksanaan perdana.

“Ini tahun kedua Sembalun Mountain Marathon Festival. Dari sisi penyelenggaraan, dukungan sponsor dan stakeholder sudah semakin banyak,” ujarnya, Sabtu sore, 19 September 2026.

IKLAN

Perkembangan itu terlihat dari jangkauan peserta. Tahun ini, SMMF mencatat kehadiran pelari dari 17 negara di luar Indonesia dengan total peserta sekitar 700 orang.

Hamka menyebut, pelari asing paling banyak mengikuti kategori 21 kilometer. Sebagian peserta asing juga mengambil kategori marathon 42 kilometer.

Kehadiran pelari mancanegara membuat SMMF memiliki ruang lebih besar untuk mengenalkan Sembalun melalui pengalaman langsung.

IKLAN

Para peserta tidak hanya datang untuk berlari, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan, masyarakat, dan aktivitas wisata di kawasan tersebut.

Panitia juga menyiapkan sejumlah kategori lain untuk memberikan pengalaman yang lebih beragam bagi peserta.

Selain nomor marathon, SMMF menghadirkan kategori yang mengarah pada pengalaman menikmati panorama Sembalun serta kategori hiburan yang dapat diikuti keluarga dan runner.

Hamka mengatakan, panitia sejak awal juga melibatkan masyarakat dalam rangkaian kegiatan.

Mereka menggelar kegiatan bersama sebelum lomba, termasuk aksi bersih-bersih dan sejumlah agenda yang melibatkan sponsor.

“Kami ingin SMMF tidak hanya dikenal di sekitar Pulau Lombok. Kami ingin gaungnya terus menyebar ke berbagai daerah, bahkan sampai luar negeri,” ujarnya.

Porter Ikut Berlari

Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam SMMF tahun ini hadir dari keterlibatan porter.

Panitia menempatkan porter sebagai salah satu kelompok yang ikut mengambil bagian dalam lomba, bukan hanya sebagai pekerja pendukung aktivitas pendakian.

Sebanyak 30 porter mengikuti lomba khusus yang mengambil rute di sekitar Sembalun. Rute tersebut mengarah ke kawasan Pergasingan dan Bukit Abang tanpa membawa peserta hingga ke puncak Pergasingan.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lombok Timur, Agus Sapandi mengatakan, keterlibatan porter memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat Sembalun.

Banyak warga setempat menggantungkan penghasilan dari pekerjaan sebagai porter untuk mendukung wisatawan yang mendaki Gunung Rinjani.

“Sekarang mereka tidak hanya bekerja membantu wisatawan, tetapi juga ikut berolahraga dan mendapatkan ruang dalam festival,” kata Agus.

Menurut dia, panitia sengaja mengangkat profesi porter dalam sebuah perlombaan agar masyarakat lokal ikut merasakan atmosfer SMMF.

Mereka juga ingin memperkenalkan peran porter sebagai bagian penting dari ekosistem pariwisata Rinjani.

Porter selama ini membantu wisatawan membawa logistik selama pendakian. Peran tersebut membuat mereka berinteraksi langsung dengan wisatawan dari berbagai daerah dan negara.

Agus menilai, kondisi itu menjadi peluang bagi masyarakat lokal untuk ikut mempromosikan Sembalun.

Wisatawan yang datang dan merasakan langsung pengalaman berlari maupun berwisata dapat membawa cerita tersebut ke negara dan daerah asal masing-masing.

“Wisatawan yang datang ke sini bisa menjadi orang yang ikut mengenalkan Sembalun kepada teman dan keluarganya,” ujarnya.

Dorong UMKM Lokal

Selain porter, SMMF juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Pemerintah daerah melihat keberadaan ratusan peserta sebagai peluang untuk memperkenalkan produk masyarakat Sembalun kepada pengunjung dari berbagai daerah dan negara.

Agus mengatakan, keterlibatan UMKM menjadi bagian dari upaya agar manfaat kegiatan tidak berhenti pada sektor olahraga dan pariwisata saja.

Pelaku usaha lokal juga mendapat ruang untuk memperkenalkan produknya kepada peserta dan wisatawan.

“Kami melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk UMKM lokal. Kami ingin produk UMKM Sembalun ikut mendapatkan ruang dan dikenal lebih luas,” katanya.

Hamka juga menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari keberlanjutan SMMF. Menurut dia, masyarakat perlu merasa memiliki kegiatan tersebut agar festival dapat terus berkembang.

SMMF tahun kedua menjadi salah satu momentum untuk memperkuat hubungan antara olahraga, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

Panitia berharap, kegiatan itu tidak hanya tumbuh dari sisi jumlah peserta, tetapi juga semakin kuat dari sisi keterlibatan masyarakat.

Hamka menyebut, pihaknya membuka peluang untuk memperluas jangkauan SMMF pada tahun berikutnya.

Ia berharap, lebih banyak peserta dari berbagai negara datang dan mengenal Sembalun melalui ajang tersebut.

Agus juga menyampaikan harapan serupa. Menurut dia, SMMF memiliki peluang untuk berkembang menjadi agenda berskala internasional yang membawa nama Sembalun dan Lombok Timur lebih luas.

“Harapan kami ke depan bukan hanya skala Lombok Timur atau nasional. Kami ingin kegiatan ini berkembang ke skala internasional dan semakin banyak wisatawan datang,” katanya.

Dengan hadirnya pelari dari 17 negara, keterlibatan porter, serta ruang bagi UMKM lokal, SMMF mulai membangun identitas yang lebih luas dari sekadar lomba lari.

Sembalun menawarkan lanskap Rinjani, pengalaman masyarakat lokal, dan aktivitas wisata sebagai bagian dari pengalaman yang dibawa pulang para peserta. (*)

Artikel Terkait