Ketiadaan Cold Storage Pernah Paksa Nelayan Ekas Lepas Ikan Murah
Lombok Timur (NTBSatu) – Nelayan di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, selama ini sulit mempertahankan harga jual ikan. Mereka harus segera menjual hasil tangkapan karena belum memiliki cold storage. Akibatnya, tengkulak lebih leluasa menekan harga saat produksi ikan melimpah.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan, persoalan itu terus membayangi nelayan. Tanpa tempat penyimpanan, nelayan tidak memiliki pilihan selain melepas ikan sesaat setelah kembali melaut.
“Kalau melaut ikannya banyak, sampai di darat ikannya ditawar murah. Karena tidak ada tempat penyimpanan, akhirnya dijual rugi,” kata Zulhas saat meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Ekas Buana, Jumat, 31 Juli 2026.
Menurutnya, cold storage memberi kesempatan kepada nelayan menyimpan ikan ketika harga turun. Nelayan bisa menunggu harga membaik sebelum menjual hasil tangkapan. Pemerintah juga melengkapi kawasan KNMP dengan pabrik es dan balai lelang agar rantai pemasaran ikan berjalan lebih baik.
“Kalau harga ikan murah, simpan dulu di cold storage. Ada es batu, ada balai lelang. Jadi nelayan tidak perlu buru-buru menjual ikannya,” ujarnya.
Ketua Pengurus KNMP Ekas Buana, Yanto, memastikan seluruh unit usaha di kawasan tersebut sudah beroperasi. Pengelola mengoperasikan portable cold storage, pabrik es, bengkel nelayan, hingga kios kuliner.
Kantongi Omset Hingga Rp2 Juta
Menurut Yanto, portable cold storage mulai memberi manfaat bagi nelayan. Selama sepekan terakhir, pengelola mencatat transaksi penjualan ikan senilai Rp13,5 juta. Unit usaha itu juga menghasilkan omzet bersih sekitar Rp2 juta.
“Untuk portable cold storage*, kami sudah melakukan transaksi sekitar Rp13,5 juta. Dalam satu minggu, omzet bersih dari penjualan ikan mencapai sekitar Rp2 juta,”* katanya.
Yanto juga melihat permintaan es terus meningkat. Nelayan dan pedagang ikan keliling datang setiap hari untuk membeli es. Mereka memanfaatkan es tersebut agar kualitas ikan tetap terjaga hingga tiba di tangan pembeli.
“Semakin hari semakin banyak nelayan dan ibu-ibu penjual ikan keliling yang membeli es di sini untuk mempertahankan kualitas ikan mereka,” ujarnya.
Yanto menambahkan, KNMP Ekas Buana menaungi 277 nelayan dengan 258 kapal. Namun, mayoritas nelayan masih melaut menggunakan kapal di bawah 1 GT. Kondisi itu membatasi jangkauan penangkapan ikan.
Karena itu, ia berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan kapal berkapasitas 5 hingga 10 GT.
Menurutnya, armada yang lebih besar akan meningkatkan hasil tangkapan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan cold storage yang kini sudah beroperasi.
“Kalau kapal bertambah, hasil tangkapan juga meningkat. Cold storage yang sudah ada bisa dimanfaatkan lebih maksimal,” pungkasnya. (*)




