Kotoran dan Tisu Berserakan di Rinjani, TNGR Serukan Tanggung Jawab Bersama
Mataram (NTBSatu) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menelusuri dugaan pencemaran di sepanjang jalur pendakian Gunung Rinjani, Lombok, NTB.
Langkah ini menyusul maraknya sorotan publik terkait keberadaan sampah tisu bekas hingga kotoran manusia yang berserakan di area konservasi tersebut. Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) TNGR, Astekita Ardiaristo menegaskan, masalah tersebut menjadi perhatian pihaknya.
“Selamat siang, terima kasih atas informasinya. Kondisi dalam video tersebut menjadi perhatian kami,” ujarnya kepada NTBSatu pada Selasa, 8 September 2026.
Sorotan Limbah Jalur Pendakian
Keluhan mengenai pencemaran di Gunung Rinjani mencuat melalui unggahan media sosial. Dalam unggahan tersebut, warganet memperlihatkan kondisi jalur pendakian via Senaru yang tercemar limbah domestik dan kotoran.
“Salah satu gunung paling indah di Indonesia adalah Gunung Rinjani. Tapi percaya enggak, di balik keindahannya, Rinjani juga menjadi salah satu gunung paling kotor yang pernah saya temui,” tulis warganet tersebut, mengutip akun Instagram @canro.simarmata pada Selasa, 8 September 2026.
Canro menyebutkan, sampah tisu bekas dan kotoran manusia menyebar di kawasan yang seharusnya dijaga bersama. Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar mengganggu pemandangan, melainkan menunjukkan krisis kesadaran dari para pendaki.
“Kita datang ke gunung untuk menikmati alam, bukan meninggalkan masalah untuk alam. Kalau kita bisa membawa makanan, pakaian, kamera, dan berbagai perlengkapan sampai ke atas, seharusnya kita juga mampu membawa kembali sampah kita,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti masalah sanitasi dan meminta para pendaki agar tidak lagi memperlakukan area gunung layaknya tempat pembuangan kotoran sembarangan.
“Dan untuk urusan buang air, jangan menganggap gunung sebagai toilet umum. Gunakan fasilitas yang tersedia, ikuti aturan jalur, dan kalau memang harus buang air di alam. Lakukan dengan cara yang benar dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, ia juga menegaskan kelestarian Rinjani sepenuhnya berada di tangan para pendaki.
“Rinjani tidak akan bisa menjaga dirinya sendiri. Kita yang datang sebagai pendaki yang harus menjaganya. Karena gunung yang indah bukan hanya gunung yang punya pemandangan luar biasa. Tapi gunung yang tetap bersih untuk dinikmati generasi berikutnya,” katanya.
Persoalan sanitasi dan sampah di kawasan gunung memang menjadi ancaman serius bagi kelestarian alam. Ketidakpatuhan pengunjung terhadap prinsip pendakian bersih tidak hanya merusak estetika kawasan, tetapi juga berpotensi mencemari ekosistem serta sumber air di area konservasi.
Penelusuran Lokasi dan Pengawasan
Menanggapi tayangan yang beredar luas di media sosial tersebut, TNGR bergerak untuk mengidentifikasi titik lokasi pencemaran. Risto berencana meningkatkan pengawasan serta memperketat edukasi bagi para pendaki sebelum mereka melintasi pintu masuk pendakian.
“Setiap pengunjung wajib menjaga kebersihan kawasan. Tidak boleh meninggalkan kotoran manusia maupun tisu secara sembarangan,” tegas Risto.
Ia menambahkan penanganan masalah ini membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat. Termasuk para pemandu wisata (guide), porter, hingga komunitas pecinta alam.
Lebih lanjut, Risto menekankan kebersihan Gunung Rinjani tidak dapat bergantung hanya pada petugas di lapangan, melainkan membutuhkan disiplin diri dari setiap pendaki.
“Kami perlu memastikan lagi lokasi tersebut dan menindaklanjuti penguatan edukasi dan pengawasan. Saya rasa menjaga kebersihan kawasan Gunung Rinjani merupakan tanggung jawab bersama seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan,” tegasnya.
Melalui penataan dan pengetatan pengawasan tersebut, ia berharap para pengunjung makin bijak saat beraktivitas di alam terbuka. Kesadaran untuk membawa turun kembali sampah serta memanfaatkan fasilitas sanitasi secara benar menjadi kunci utama agar keindahan Gunung Rinjani tetap terjaga untuk generasi mendatang. (*)




