Lombok Tengah

UMKM Binaan Ketahanan Pangan dan Produk Lokal Meriahkan MTQ NTB di Lombok Tengah

Lombok Tengah (NTBSatu) – Puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memeriahkan gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi NTB di Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 7-16 Juni 2026.

Beragam produk pangan lokal hingga hasil olahan kelompok masyarakat turut meramaikan area stan pameran.

Salah satu yang menarik perhatian adalah stan binaan Dinas Ketahanan Pangan Lombok Tengah. Tidak hanya menjual makanan olahan, stan tersebut juga menawarkan bibit tanaman, kompos, hingga hasil kerajinan masyarakat.

IKLAN

Staf Bidang Konsumsi Dinas Ketahanan Pangan Lombok Tengah, Zarkasyi mengatakan, produk yang menghiasi stan pameran merupakan hasil binaan Kelompok Wanita Tani (KWT). Di mana selama ini mendapat pendampingan dari pemerintah daerah.

“Kalau ini dari hasil binaan kelompok kami yang sudah memanfaatkan pekarangan. Hasilnya diolah menjadi makanan seperti ini, kemudian kami bantu memperjualbelikannya,” katanya saat ditemui di lokasi pameran beberapa waktu lalu.

Menurut Zarkasyi, program pemanfaatan pekarangan telah berjalan sejak 2021 dan kini berkembang di seluruh 12 kecamatan di Lombok Tengah. Melalui program tersebut, masyarakat belajar cara menanam kebutuhan pangan rumah tangga, membuat kompos, hingga mengembangkan produk bernilai ekonomi.

IKLAN

Ia menyebut, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut cukup tinggi. Namun, keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam pengembangan program ketahanan pangan.

“Dulu anggaran sekitar Rp1 miliar, sekarang tinggal sekitar Rp100 juta. Kendala kami saat ini memang masalah anggaran,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap berupaya menjalankan program dengan mendorong kemandirian kelompok masyarakat dan memaksimalkan sumber daya yang ada.

“Program ini sangat membantu ibu-ibu mengurangi pengeluaran dapur karena sebagian kebutuhan pangan bisa dari pekarangan sendiri,” tambahnya.

Menghadirkan Bahan Pokok Murah

Sementara itu, Perum Bulog Kanwil NTB turut membuka stan pangan murah selama pelaksanaan MTQ. Bulog menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti beras dan telur dengan harga terjangkau.

Staf Bidang Pemasaran Bulog Kanwil NTB, Muhammad Haerul Hasbi mengatakan kehadiran stan tersebut bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih murah sekaligus mendukung perputaran ekonomi lokal.

“Supaya ekonomi masyarakat bertumbuh dengan membeli produk-produk UMKM di sini. Kami juga menyediakan bahan pangan seperti beras dan telur yang semuanya produk lokal untuk membantu ekonomi daerah,” katanya.

Promosikan Produk Unggulan

Tak hanya dari Lombok Tengah, sejumlah kabupaten/kota peserta MTQ juga memanfaatkan momentum tersebut untuk mempromosikan produk unggulan daerah masing-masing.

Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), misalnya, menghadirkan berbagai produk khas daerah seperti madu asli, minyak Sumbawa, dan kopi robusta Rarak Ronges.

Penjaga stan KSB, Tri Diya Sahwaningsih, mengatakan seluruh produk berasal dari masyarakat Sumbawa Barat yang produksi secara mandiri.

“Kami membawa madu asli Sumbawa Barat, minyak Sumbawa Barat, dan kopi Rarak yang merupakan kopi robusta asli daerah kami,” ujarnya.

Ia mengklaim madu yang dijual dijamin keasliannya karena proses pengemasan dilakukan langsung oleh tim dari daerah tersebut. Begitu pula dengan minyak tradisional khas Sumbawa Barat yang diproduksi secara terbatas berdasarkan pesanan.

Selain itu, Kopi robusta yang berasal dari daerah Rarak Ronges Kecamatan Brang Rea Kab Sumbawa Barat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Menurut Tri Dya, minat masyarakat terhadap produk-produk khas KSB cukup tinggi sejak malam pertama pembukaan stan.

“Ketertarikan masyarakat lumayan tinggi. Penjualan Produk yang di siapkan di stand sampai malam ini sudah mencapai 30 dari total Madu Minyak Sumbawa dan Kopi Rarak yg di siapkan,” katanya.

Keberadaan stan UMKM dan pangan murah dalam gelaran MTQ tidak hanya menyemarakkan acara keagamaan, tapi juga jadi ruang promosi dan penggerak ekonomi masyarakat lokal. (*)

Artikel Terkait