Lombok TengahPendidikan

Banyak Gen Z Akrab dengan Gawai, SMAN 1 Praya Ubah Cara Bangun Budaya Baca

Lombok Tengah (NTBSatu) – Untuk membangun budaya baca di kalangan siswa, SMAN 1 Praya menyesuaikan pendekatan dengan kebiasaan Generasi Z yang akrab dengan gawai dan media sosial.

Kepala Perpustakaan SMAN 1 Praya, Maimunah, menilai sekolah tidak bisa lagi mengandalkan cara lama untuk menumbuhkan minat baca.

“Bukan 100 persen kesalahan mereka. Ada metode, media, dan strategi yang harus kita buat agar mereka mau membaca,” katanya kepada NTBSatu, Selasa, 22 Juli 2026.

IKLAN

Pandangan itu juga terlihat dari pengalaman salah seorang siswa, Lalu Zaidan Batilda, yang mengaku belum terbiasa menghabiskan waktu luang di perpustakaan. Seusai belajar, ia lebih sering menuju balkon sekolah untuk menikmati suasana sekitar agar pikirannya lebih rileks.

Zaidan menilai kemudahan mengakses buku melalui gawai menjadi salah satu alasan banyak siswa mulai meninggalkan buku cetak. Meski begitu, ia mengingatkan buku digital juga punya keterbatasan karena bergantung pada jaringan internet.

“Sekarang banyak buku yang bisa diakses lewat gadget dan lebih mudah. Tapi kalau internet tidak bisa digunakan, buku-buku itu juga tidak bisa diakses,” katanya.

Maimunah mengatakan kondisi itu membuat perpustakaan harus menyesuaikan pendekatan. Ia menyebut siswa saat ini lebih menyukai konten visual melalui TikTok maupun YouTube, sehingga perpustakaan perlu menghadirkan cara yang lebih relevan tanpa mengabaikan tujuan utama, yakni menumbuhkan budaya membaca.

Kolaborasi Sekolah untuk Literasi

Ia menegaskan perpustakaan tidak bisa bekerja sendiri. Program literasi membutuhkan kolaborasi seluruh warga sekolah, mulai dari guru mata pelajaran, wali kelas, guru bimbingan konseling (BK), hingga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

“Perpustakaan tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada dukungan dari sekolah dan kita programkan bersama,” ujarnya.

Salah satu program yang sekolah terapkan memanfaatkan jam kosong ketika guru berhalangan hadir. Pada waktu itu, siswa diajak ke perpustakaan untuk membaca buku fiksi selama 15 menit, lalu menceritakan kembali isi bacaan di depan teman-temannya.

Zaidan mendukung program tersebut. Menurutnya, kegiatan membaca singkat lalu mengulas kembali isi bacaan dapat mendorong siswa memahami buku sebelum menyampaikannya kepada orang lain.

“Kalau kegiatan itu dilaksanakan seminggu sekali, siswa akan membaca dan memahami isi bukunya agar bisa mengulas kembali,” katanya.

Menurut Maimunah, cara tersebut tidak hanya melatih kebiasaan membaca, tetapi juga meningkatkan kemampuan memahami isi buku, berbicara, serta menyampaikan gagasan. Ia menyebut buku fiksi masih menjadi bacaan favorit siswa, dengan sejumlah karya penulis Tere Liye sebagai koleksi yang paling sering siswa pinjam saat waktu senggang.

Rekreasi Literasi

Selain itu, perpustakaan tengah menyiapkan program Rekreasi Literasi. Program tersebut mengajak siswa belajar di luar kelas melalui kunjungan ke sejumlah lokasi, salah satunya Desa Sade.

Dalam kegiatan itu, siswa akan mewawancarai masyarakat, mengamati aktivitas mereka, lalu menuangkan hasilnya dalam bentuk tulisan. Maimunah menilai literasi tidak hanya sebatas membaca buku, tetapi juga mencakup kemampuan mengamati, menulis, dan mengolah informasi.

Zaidan pun berharap perpustakaan menghadirkan lebih banyak kegiatan interaktif agar semakin banyak siswa tertarik berkunjung.

“Mungkin dengan menambahkan kegiatan yang seru di perpustakaan dapat menarik perhatian siswa untuk datang ke perpustakaan,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait