PWI KSB Susuri “Jogging Track” Tiu Suntuk, Kawal Pariwisata Kerakyatan Brang Ene
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumbawa Barat menggelar aksi nyata dalam mengawal pengembangan pariwisata kerakyatan di daerah.
Langkah ini menjadi bagian penting untuk menyiapkan kemandirian ekonomi masyarakat Sumbawa Barat dalam menghadapi masa pasca-tambang.
PWI KSB menjajal kegiatan berkemah dan jelajah alam selama dua hari, 8 hingga 9 Agustus 2026. Puluhan wartawan bersama tokoh masyarakat, pemuda, hingga pegiat wisata turun langsung menjajal rute jogging track di Kecamatan Brang Ene.
PWI KSB mengusung tema Jalan Perjuangan Pariwisata Kerakyatan untuk memeriahkan HUT Ke-81 Republik Indonesia. Pelepasan peserta penjelajahan berlangsung penuh kebersamaan di halaman Kantor Camat Brang Ene, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kegiatan ini membuktikan komitmen insan pers yang tidak hanya memberitakan, tetapi hadir langsung memetakan potensi daerah. Sinergi wartawan dan masyarakat lokal menjadi energi utama dalam mendorong gerakan pariwisata berbasis warga.
Ketua PWI Sumbawa Barat Khairil W. Zakaria menjelaskan bahwa kegiatan ini melanjutkan agenda touring camp Sembalun pada Juni 2026 lalu. PWI KSB konsisten mengadopsi keberhasilan tata kelola pariwisata berbasis warga untuk diterapkan di daerah sendiri.
“Kami melihat kehidupan masyarakat desa menyimpan potensi wisata yang sangat luar biasa. PWI KSB berikhtiar mengawal pariwisata kerakyatan agar warga lokal menjadi pemain utama di tanah sendiri,” ujar Khairil, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Rute Penjelajahan
Peserta penjelajahan mengawali rute dari Kantor Camat Brang Ene lalu menyusuri hamparan persawahan di Desa Manemeng. Penjelajahan sepanjang kurang lebih enam kilometer tersebut berakhir di kawasan Bendungan Tiu Suntuk atau Bendungan Ganerong, Desa Hijrah.
Secara teknis, konsep pariwisata kerakyatan ini memanfaatkan infrastruktur pertanian yang sudah ada tanpa ganti rugi lahan. Pengelola memperkuat dinding pematang sawah warga sebagai lintasan lari yang kokoh dan aman dari bahaya tanah longsor.
Pengembangan jalur sepanjang enam kilometer ini juga didesain terpadu dengan menghubungkan empat wilayah desa sekaligus. Lintasan ini mengintegrasikan potensi Desa Mura, Desa Manemeng, Desa Mujahidin, dan Desa Kalimantong dalam satu paket wisata.
Skema tata kelola kawasan diserahkan sepenuhnya kepada BUMDes Bersama untuk mengoptimalkan perputaran ekonomi di tingkat bawah. Lembaga usaha desa ini mengelola rest area, spot foto, hingga penyediaan moda bus pariwisata untuk mobilitas pengunjung.
Kepala Dinas Parpora KSB, Nurdin Rahman, mengapresiasi tinggi konsistensi PWI KSB dalam mengawal agenda pariwisata daerah. Kehadiran puluhan insan pers dalam menjajal rute ini mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah.
“Kami sangat berterima kasih kepada rekan PWI KSB yang terus mengawal dan menyebarkan informasi pariwisata. Peran media sangat strategis dalam memperkenalkan kekayaan alam Sumbawa Barat ke publik luas,” kata Nurdin Rahman.
PWI KSB menilai, kesiapan mental warga dalam mengelola potensi lokal secara mandiri menjadi kunci utama keberhasilan konsep ini. Melalui pendekatan berbasis masyarakat, aktivitas wisata dapat tumbuh pesat tanpa merusak fungsi lingkungan dan lahan pertanian setempat.
Penjelajahan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang dirumuskan bersama seluruh peserta di lokasi perkemahan. PWI KSB mengawal penuh proses ini agar target peluncuran Wisata Kerakyatan Tiu Suntuk pada November 2026 dapat terealisasi secara maksimal. (*)




