Kepala SDN 23 Ampenan Ungkap Aktivitas Terakhir NDR: Tetap Datang Latih Tari saat Libur Sekolah
Mataram (NTBSatu) – Kepala SDN 23 Ampenan, Samsul Fahrozi mengungkap aktivitas terakhir mahasiswi Universitas Mataram (Unram) berinisial NDR, sebelum ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya, pada 17 Mei 2026.
Samsul mengatakan, NDR masih datang ke sekolah pada Jumat pagi meski saat itu sekolah libur. Korban tetap menjalankan program Asistensi Mengajar (AM) dengan melatih tari siswa untuk persiapan acara perpisahan sekolah.
“Jumat itu sekolah libur, tetapi almarhumah masih datang pagi untuk melatih menari anak-anak. Karena memang dia punya program latihan tari,” ujar Samsul kepada NTBSatu, Senin, 25 Mei 2026.
Menurutnya, NDR dikenal dekat dengan siswa dan aktif dalam berbagai kegiatan sekolah. Korban juga terlibat dalam kegiatan pembelajaran maupun ekstrakurikuler bersama mahasiswa AM lainnya.
“Memang dekat dia sama anak-anak. Rajin juga di sini, aktif berkegiatan bersama teman-temannya,” katanya.
Samsul mengaku terkejut saat mendengar kabar duka tersebut. Sebab, hingga hari terakhir berada di sekolah, NDR terlihat ceria dan tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki masalah.
“Kalau ada orang yang lagi ada masalah biasanya kelihatan ada perubahan sikap atau kejanggalan. Tetapi dia enggak ada, biasa saja, normal,” ujarnya.
Ia mengatakan, sebelum libur sekolah, NDR juga masih aktif membantu kegiatan salat berjemaah siswa bersama teman-temannya. “Setiap hari dia biasa bantu siapkan anak-anak salat di belakang sebelum kami mulai salat berjemaah,” katanya.
Selain dekat dengan siswa, Samsul menyebut, NDR juga akrab dengan guru-guru di sekolah. Korban sering bercanda dan berinteraksi santai bersama tenaga pengajar lainnya.
“Akrab sama guru-guru di sini. Sering bercanda juga,” ucapnya.
Sempat Berkomunikasi dengan Temannya
Samsul mengatakan, teman-teman AM korban juga tidak menyangka peristiwa tersebut terjadi. Sebab, hingga Jumat malam, NDR masih sempat berkomunikasi dengan teman-temannya terkait program kerja AM.
“Malam Sabtu itu masih komunikasi sama teman-temannya, bahas program kegiatan,” katanya.
Namun sejak Sabtu pagi, nomor ponsel korban mulai sulit dihubungi dan hanya menunjukkan tanda centang satu. “Mulai Sabtu pagi katanya sudah centang satu,” ujarnya.
Terkait kasus tersebut, Samsul berharap, aparat penegak hukum segera mengungkap pelaku dan menuntaskan penyelidikan. “Harapannya pelaku segera ditemukan,” katanya.
Ia juga mengaku peristiwa itu menjadi pelajaran bagi para orang tua, terutama yang memiliki anak perempuan yang tinggal di kos. “Kalau saya pribadi, pastikan tempat kos ada penjaganya. CCTV juga penting,” ujarnya.
Sebagai bentuk belasungkawa, pihak SDN 23 Ampenan bersama mahasiswa AM menggelar penggalangan dana dan doa bersama untuk almarhumah. “Kami langsung lakukan penggalangan dana dan doa bersama untuk almarhumah sebagai bentuk belasungkawa,” katanya. (*)




