Kota Mataram

Keluarga Korban Pembacokan di Udayana Mataram Tuntut Pelaku Dihukum Berat

Mataram (NTBSatu) – Suasana duka mendalam menyelimuti kediaman keluarga korban penyerangan brutal kelompok bersenjata tajam di Udayana, Kota Mataram.

Pihak keluarga korban mendesak aparat kepolisian agar segera mengusut tuntas kasus ini dan menghukum para pelaku seberat-beratnya.

Peristiwa berdarah yang terjadi pada malam Minggu tersebut merenggut nyawa seorang remaja bernama Muhammad Gibran Anugrah Aditya dan melukai rekannya, Fahmi dan Gilang. Aksi kekerasan jalanan ini sontak memicu keresahan jalanan ini sontak memicu keresahan di tengah masyarakat Kota Mataram.

Berdasarkan keterangan kakak kandung Fahmi, Aurel, insiden bermula ketika Fahmi bersama rekan-rekannya, Gibran dan Gilang, meminta izin keluar rumah untuk mengunjungi teman-teman mereka di wilayah Ampenan.

Setelah berkumpul, rombongan korban melintas menggunakan sepeda motor dari kawasan Ponar menuju ke arah Udayana. Namun, situasi mendadak mencekam ketika mereka melintas di sekitar jembatan Ponar.

Aurel memastikan bahwa para korban tidak memiliki masalah atau perselisihan apa pun di jalan dengan kelompok pelaku. Tanpa diduga, sekelompok pengendara yang diduga anggota geng motor muncul dari arah belakang dan langsung mendekati korban.

Para pelaku menyegat korban dengan modus menaikkan standar dua sepeda motor mereka secara perlahan sambil mengeluarkan senjata tajam. Aksi intimidasi tersebut membuat sepeda motor yang dikendarai korban hilang kendali dan menabrak trotoar jalan, hingga para penumpang terlempar ke arah yang berbeda.

Gibran Jadi Sasaran Utama

Akibat benturan keras tersebut, Gibran terlempar ke arah kiri dan langsung menjadi sasaran utama penyerangan brutal para pelaku dengan sabetan senjata tajam. Nyawa remaja yang dikenal santun dan pendiam itu pun tidak tertolong.

Sementara itu, rekan korban, Fahmi, terlempar ke sisi kanan jalan dan sempat terjatuh dalam posisi tertelungkup.

“Adik saya (Fahmi) sempat pasrah saat tertelungkup. Namun karena teringat orang tua di rumah, ia berusaha bangkit dan menyelamatkan diri meski sudah mengalami luka-luka,” ujar Aurel kemarin.

Dalam kondisi terluka parah di bagian pelipis dan tangan akibat mencoba menghindari tebasan parang, Fahmi berjuang melarikan diri dari lemparan batu para pelaku. Ia akhirnya mencapai sebuah warung warga untuk meminta pertolongan.

Warga setempat yang sigap langsung mengamankan Fahmi dan membawa korban ke kantor polisi terdekat sebelum akhirnya merujuknya ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram guna memberikan penanganan medis. Akibat sabetan senjata tajam tersebut, tenaga medis menjahit sejumlah luka di bagian pelipis Fahmi.

Keluarga korban berharap aparat penegak hukum dapat bergerak cepat menangkap seluruh pelaku yang terlibat dalam penyerangan maut ini. Pihaknya kini telah resmi melaporkan kasus tindak pidana kekerasan tersebut kepada pihak kepolisian untuk memproses penyelidikan lebih lanjut.

Sementara itu, Kakak kandung almarhum Gibran, Yosi, menyampaikan permohonan agar keadilan dapat ditegakkan bagi adiknya.

“Sedih sekali. Almarhum itu sosok yang pendiam dan baik. Saya meminta kepada aparat kepolisian agar pelaku dihukum seadil-adilnya,” tegas Yosi dengan nada bergetar.

Polisi Amankan 10 Terduga Pelaku di Bawah Umur

Di sisi lain, Sat Reskrim Polresta Mataram mengamankan 10 orang terduga pelaku dugaan penganiayaan di Jalan Udayana dan Jalan Sriwijaya Kota Mataram yang mengakibatkan seorang korban meninggal dunia.

Kasat Reskrim Polresta Mataram, AKP I Made Dharma Yulia Putra, mengatakan bahwa 10 orang terduga pelaku tersebut rata-rata merupakan anak di bawah umur dan masih duduk di bangku SMP.

“Rata-rata masih SMP, ada yang berusia 14, 15, 17, dan 21 tahun,” ungkapnya, Selasa, 27 Oktober 2026.

Kepolisian kini masih memeriksa para terduga pelaku dan menyebut adanya kemungkinan menambah jumlah pelaku.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, para terduga pelaku mengonsumsi minuman keras terlebih dahulu sebelum melakukan konvoi yang berujung pada aksi pembacokan terhadap korban.

“Mereka mabuk dari jam 10 sampai 2 pagi. Konvoi muter, kejadian pertama di Jalan Sriwijaya baru di Udayana,” tandas AKP I Made Dharma Yulia Putra. (*)

Artikel Terkait