Kota Mataram

Lingkungan Karang Taruna Gencarkan Program Tempah Dedoro

Mataram (NTBSatu) – Lingkungan Karang Taruna, Kelurahan Mataram Barat, Kota Mataram, menggencarkan program Tempah Dedoro. Hal ini dirasa meringankan beban sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan memberikan manfaat bagi warga sekitar melalui produksi kompos.

Di tengah padatnya pemukiman, warga sering kali mengambil jalan pintas yang merugikan lingkungan, seperti membuang sampah ke aliran sungai atau membakarnya.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Lingkungan Karang Taruna, Bambang Dwi Wahyudi, kini fokus dengan program unggulan Pemerintah Kota Mataram, yaitu Tempah Dedoro.

IKLAN

“Pertama memang kita maksimalkan program Tempah Dedoro. Kalau kita belajar dari lingkungan lain, itu  memang sangat membantu di sampah organik. Tanpa kita sadari, itu pun juga besar volumenya (sampah),” tutur Bambang kepada NTBSatu, Jumat, 22 Mei 2026.

Bambang mengungkapkan, program Tempah Dedoro sangat membantu wilayahnya, terutama pada musim-musim tertentu saat warga melakukan kerja bakti atau gotong royong.

“Beberapa RT kita warganya masih memiliki pohon-pohon besar. Dulu saat gotong royong, kami bingung sampah organiknya mau dibuang ke mana. Kalau dibakar, jelas sudah dilarang oleh aturan. Tetapi kenyataannya, masih ada saja warga yang nekat membakar sampah,” jelasnya.

IKLAN

Aktivitas pembakaran sampah secara mandiri ini kerap memicu protes dari warga akibat polusi asap yang timbul. “Ini masalah yang sangat sensitif. Terakhir, kami menerima komplain dari warga yang memiliki anak bayi dan lansia karena sangat terganggu oleh asap pembakaran,” ungkapnya.

Tantangan Pelaksanaan Program Tempat Dedoro

Ia menambahkan, ketersediaan lahan menjadi tantangan tersendiri untuk pengadaan wadah Tempah Dedoro. “Dengan adanya Tempah Dedoro ini, sekarang sampah organik bisa langsung dialokasikan untuk dijadikan kompos. Tetapi tantangannya itu karena lingkungan di tengah kota, jadi lahannya terbatas” imbuhnya.

Selain masalah lahan, Bambang juga menjelaskan tantangan lain, seperti minimnya armada pengangkut sampah roda tiga. Saat ini, wilayah yang membawahi empat RT tersebut hanya memiliki satu armada yang beroperasi.

“Tahun lalu, dari enam lingkungan di Mataram Barat, baru dua lingkungan yang mendapatkan penggantian armada baru. Kami sudah mengajukan kembali pengadaan armada melalui MPBM ke kantor camat, semoga bisa cepat terealisasi,” ucap Bambang.

Akibat keterbatasan armada ini, ritme pengangkutan sampah warga mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya pengangkutan sampah setiap dua hari sekali, kini durasinya menjadi tiga hari sekali. Pembatasan demi menjaga satu-satunya armada yang ada tidak bekerja terlalu keras hingga berisiko rusak di jalan. (Ashri)

Artikel Terkait

Back to top button