Kaling Marong Karang Tatah Aktif Lakukan Sosialisasi Sampah
Mataram (NTBSatu) – Kepala Lingkungan (Kaling) Marong Karang Tatah, Lalu Muhammad Ya’kub menginisiasi kegiatan sosialisasi sampah di lingkungannya. Langkah ini guna mengubah kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah, sekaligus memaksimalkan program Tempah Dedoro.
Kegiatan ini secara rutin tiap empat bulan sekali. Setelah diberlakukannya program Tempah Dedoro, upaya meningkatkan kesadaran pemilahan sampah dalam masyarakat menjadi krusial. Ya’kub mengungkapkan, sedang gencar sosialisasi program pemilahan sampah organik dan anorganik.
“Saya kan sudah ada Tempah Dedoro untuk penanganan. Untuk Tempah Dedoro sama ini saja, merubah kebiasaan masyarakat untuk membuang sampah dan memilah sampah pada tempatnya. Itu saja yang menjadi sulit. Lebih ke kebiasaannya untuk kita yang harus kita rubah,” ucapnya kepada NTBSatu, Rabu, 6 Mei 2026.
Inisiatif Mandri Kaling Marong Karang Tatah
Menariknya, upaya edukasi ini sering kali secara mandiri tanpa menunggu kucuran dana resmi dari kelurahan. Ya’kub mengaku, harus memutar otak agar kegiatan pertemuan warga tetap bisa berjalan.
“Kita buat pertemuan-pertemuan itu inisiasi sendiri, cari anggaran sendiri untuk konsumsi. Bahkan, harus berkorban sedikit dari gaji lingkungan untuk beli snack (cemilan, red) atau makan saat pertemuan. Kita tidak mengelola dana lingkungan secara langsung karena semua dikelola di kelurahan,” ungkapnya.
Langkah ini demi mencapai target perubahan perilaku. Ia meyakini, kebiasaan baru akan terbentuk jika secara konsisten selama minimal tiga bulan.
“Ada yang sudah pelan-pelan mulai mengikuti, ada juga yang masih belum terbiasa, karena terbiasa membuang sampah tercampur. Memang kendala kita juga kan kita harus tetap monev (monitoring dan evaluasi) sebenarnya,” kata Ya’kub.
Namun, ia juga berharap, ke depannya ada insentif bagi tim monev agar pengawasan di lapangan bisa lebih maksimal.
“Itu yang kita harapkan sebenarnya. Nggak usah terlalu lama, palingan sekitar tiga bulan saja. Yang penting kita monev, membiasakan dulu. Tetapi kita butuh insentif juga, kendalanya karena kita juga tidak mengelola dana lingkungan tidak ada dana lingkungan,” imbuhnya.
Optimalisasi Armada
Ketersediaan armada di lingkungan dinilai masih cukup kondusif. Dengan jumlah sekitar 150 rumah dan 200-an Kepala Keluarga (KK), satu unit armada jenis Tossa masih mampu melayani dua trayek secara rutin setiap selang satu hari.
“Armada kita masih layak pakai dan ukurannya fleksibel untuk masuk ke gang-gang. Sejauh ini cukup, karena volume sampah warga juga sudah mulai berkurang sejak ada pemilahan,” jelas Ya’kub.
Tantangan Sampah di Ruang Publik
Meski penanganan sampah di tingkat rumah tangga mulai membaik, ia tidak menampik adanya kendala di fasilitas umum. Minimnya bak sampah di pinggir jalan raya membuat masyarakat, terutama anak-anak, masih sering membuang sampah sembarangan setelah berbelanja.
“Edukasi sudah ada, tetapi kalau fasilitas tempat sampah di jalan tidak tersedia, warga tetap akan buang sembarangan. Ini yang masih menjadi tantangan terkait anggaran pengadaan,” tambahnya. (Ashri)




