Kota Bima

Damkar Kota Bima Siaga Karhutla Saat Kemarau Panjang

Kota Bima (NTBSatu) – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Bima meningkatkan kesiapsiagaan penuh dalam mengantisipasi lonjakan kasus kebakaran lahan dan hutan (karhutla). Langkah ini merupakan respons atas fenomena kemarau panjang dalam prediksi BMKG yang akan berlangsung hingga kuartal pertama tahun 2027 mendatang.

Kepala Dinas Damkar Kota Bima, Abdul Rafik menjelaskan, meskipun secara regulasi penanganan karhutla berada di bawah ranah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Damkar Kota Bima berkomitmen penuh untuk tetap aktif berada di garis depan.

“Sebenarnya kalau untuk kebakaran lahan dan hutan itu subsektor yang memiliki tanggung jawab besar itu di bawah BPBD. Namun bagaimanapun juga, berkenaan dengan kebakaran, mau enggak mau kami Dinas Kebakaran tetap harus aktif mem-backup,” tegas Abdul Rafik, Senin, 24 Agustus 2026.

IKLAN

Dua Faktor Utama Potensi Karhutla

Kondisi cuaca dan suhu ekstrem saat ini meningkatkan risiko titik api menyebar dengan sangat cepat. Damkar mencatat dua faktor utama yang memicu timbulnya kebakaran lahan di Kota Bima. Pemicu pertama adalah kebiasaan masyarakat yang membuka lahan pertanian dengan cara membakar, lalu meninggalkannya tanpa pengawasan.

“Pemicu utamanya adalah pembukaan lahan. Biasanya masyarakat membuka lahan dengan membakar. Setelah membakar, mereka meninggalkan, bukan mengawasi. Padahal yang namanya membuka lahan ataupun menyiapkan lahan itu seharusnya tidak boleh ada pembakaran,” lanjutnya.

Pemicu kedua yang tidak kalah krusial adalah aktivitas membakar sampah di area yang berdekatan dengan permukiman warga. Kebiasaan ini sangat membahayakan keselamatan lingkungan di tengah kondisi kekeringan yang melanda.

IKLAN

“Membakar sampah itu sebenarnya tidak boleh, apalagi di posisi kemarau panjang seperti ini karena sangat memicu terjadinya kebakaran. Di Kota Bima, beberapa penyebab kebakaran lahan karena membakar sampah,” tambahnya.

Guna menekan tingginya potensi insiden tersebut, Damkar Kota Bima menggencarkan sosialisasi pencegahan secara masif. Termasuk memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk menjangkau masyarakat luas. Rafik menekankan, upaya pencegahan jauh lebih utama daripada penanganan saat api sudah membesar.

“Karena bagaimanapun juga kebakaran itu kalau sudah terjadi ya sudah terjadi. Tapi yang paling penting itu adalah mencegahnya melalui sosialisasi ke masyarakat,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait