Advertorial

Desa Senggigi Siapkan Terasering dan Tanaman Langka untuk Perkuat Wisata Berbasis Lingkungan

Lombok Barat (NTBSatu) – Pemerintah Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, menyiapkan konsep penataan lingkungan berbasis edukasi di kawasan Bukit Loco. Program tersebut mengintegrasikan penataan lahan, penanaman pohon langka, dan pengembangan wisata edukasi. Pemerintah desa ingin menghadirkan kawasan wisata yang memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan bagi pengunjung.

Kepala Desa Senggigi, Mastur mengatakan, pemerintah desa akan membangun terasering di lahan seluas 50 are. Penataan tersebut menjadi bagian dari pengembangan destinasi baru melalui program Desa Berdaya Tematik.

“Kalau kita terasering dan kita tanamkan nanti pohon-pohon yang langka, itu akan menjadi edukasi kepada tamu-tamu yang datang di lokasi tersebut,” ungkap Mastur kepada NTBSatu, Jumat, 30 Oktober 2026.

Menurutnya, kawasan tersebut nantinya akan mereka tanami berbagai jenis pohon langka dan dilindungi. Keberadaan tanaman tersebut ia harapkan dapat memperkenalkan kekayaan lingkungan kepada wisatawan.

Ada Budidaya Trigona Juga

Selain penanaman pohon, pemerintah desa juga merencanakan pengembangan budidaya lebah Trigona. Pengunjung nantinya dapat mempelajari proses budidaya hingga pembibitan lebah.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menggabungkan pariwisata dengan edukasi lingkungan. Dengan demikian, pengembangan kawasan tidak hanya mengutamakan pembangunan fasilitas wisata.

Mastur menjelaskan, pemerintah desa telah menyiapkan lahan di Bukit Loco sejak 2024. Desa juga telah menganggarkan Rp300 juta untuk pembangunan akses jalan menuju lokasi tersebut.

“Untuk akses jalan menuju lokasi tersebut, sudah kita anggarkan kemarin Rp300 juta,” jelasnya.

Ia berharap penataan kawasan dapat memperkuat daya tarik wisata Senggigi. Selain memberikan pengalaman edukatif, kawasan tersebut diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dua Skema Desa Berdaya

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus melanjutkan program Desa Berdaya, hingga akhir 2026, Program tersebut menyasar 257 desa dan kelurahan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Baiq Nelly Yuniarti menjelaskan, Pemprov NTB menjalankan Desa Berdaya melalui dua pendekatan, yakni Desa Berdaya Tematik dan Desa Berdaya Transformatif.

Melalui pendekatan tematik, pemerintah memberikan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) sebesar Rp300 juta hingga Rp500 juta kepada desa untuk menyelesaikan persoalan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

“Desa Berdaya Tematik kita arahkan, pemerintah desa dan kelurahan untuk mengembangkan potensi lokal melalui tiga tema utama, yakni ketahanan pangan, pariwisata, dan kelestarian lingkungan,” jelasnya.

Khusus desa yang memiliki kantong kemiskinan ekstrem, pemerintah mengalokasikan bantuan Rp500 juta. Dari jumlah tersebut, Rp300 juta untuk program pemberdayaan desa dan Rp200 juta untuk penanganan rumah tidak layak huni (RTLH).

NTB memiliki 106 desa dengan kantong kemiskinan ekstrem. Pada 2026, Pemprov NTB telah mengintervensi 40 desa melalui pendekatan tersebut. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait