Dua Kelas MTs Badrussalam NW Sekarbela Roboh, Dewan Minta Percepatan Perbaikan
Mataram (NTBSatu) — Dua ruang kelas MTs Badrussalam NW Sekarbela, Kota Mataram, roboh pada Sabtu, 20 Juni 2026 usai kegiatan pembagian rapor siswa. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena kejadian berlangsung luar jam belajar aktif.
Kondisi bangunan saat ini berstatus darurat. Sisa material reruntuhan masih berserakan, sementara area kejadian telah dipasangi garis polisi (police line) oleh Polsek Ampenan untuk pengamanan.
Peristiwa ini kembali menyoroti kondisi gedung sekolah swasta Kota Mataram yang dinilai minim perhatian perbaikan bertahun-tahun.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram, Zia Urrahman, turun langsung ke lokasi dan menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Ia telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram untuk mendorong percepatan penanganan dan perbaikan gedung sekolah.
“Kami sangat prihatin dan sudah berkoordinasi dengan Pemkot Mataram. Saya bersama Kadisdik juga telah melakukan pengecekan langsung,” ujarnya, Senin, 22 Juni 2026.
Zia menjelaskan, dua ruang kelas yang roboh merupakan bangunan lama sejak 1984 dan belum pernah memperoleh rehabilitasi besar. Kondisi struktur, terutama rangka kayu serta genteng, sudah mengalami pelapukan.
Ia juga telah berkoordinasi dengan Sekda Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, agar proses perbaikan segera terealisasi.
“Komisi IV akan terus mengawal kondisi sekolah-sekolah Kota Mataram, baik swasta maupun negeri, agar seluruhnya layak untuk kegiatan belajar mengajar,” tegasnya.
Dugaan Awal: Kayu Penyangga Sudah Lapuk
Kepala MTs Badrussalam NW Sekarbela, Istiarah menyampaikan, sebelum kejadian sempat terdengar suara keras seperti kayu patah dari arah bangunan. Saat pengecekan, satu ruang kelas sudah roboh, sementara satu ruang lain mengalami kerusakan pada bagian atap. Ruang kelas IX tercatat mengalami kerusakan paling parah, sedangkan ruang kelas VII ikut terdampak sebagian.
Kapolsek Ampenan, AKP Muhammad Ryanto bersama Camat Sekarbela, Arief Satriawan, langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan serta memastikan kondisi sekitar tetap aman.
Hasil pemeriksaan awal menyebutkan robohnya bangunan diduga akibat usia material kayu penyangga yang sudah lapuk sehingga tidak mampu menahan beban atap.
Saat ini, aktivitas belajar pada ruang terdampak, vakum sementara sampai penanganan lebih lanjut dari pihak terkait. (*)




