Kota Mataram

Waspada Arus Bawah Laut, BPBD Mataram Minta Orang Tua Awasi Anak Saat Berlibur di Pantai

Mataram (NTBSatu) — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, meminta para orang tua meningkatkan kewaspadaan. Orang tua wajib mengawasi ketat anak-anak mereka yang mengisi waktu libur dengan mengunjungi pantai.

Kepala BPBD Kota Mataram, Budi Wartono, menyampaikan imbauan ini secara langsung. Langkah tersebut menyusul adanya potensi bahaya arus bawah laut yang kerap tidak terlihat secara kasat mata.

“Jangan sampai terulang lagi kejadian-kejadian mandi tanpa pengawasan orang tua. Kemudian kita tidak tahu arus bawahnya sedang menarik karena terjadinya perubahan arus di gelombang di pantai, itu yang menyeret adik-adik kita,” ujar Budi, Rabu, 24 Juni 2026.

IKLAN

Budi mengatakan pihak BPBD akan terus mengingatkan masyarakat secara berkala. Ia tidak melarang warga menikmati liburan pantai, namun keselamatan anak harus tetap menjadi prioritas utama.

“Jadi kita melakukan pengimbauan dan mengingatkan terus kepada pihak masyarakat, dan orang tua juga mengisi liburan boleh, tetapi tolong jangan dilepas. Tetap dalam pengawasan orang tua,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kota Mataram menyiagakan alat deteksi dini atau Early Warning System (EWS) pada sejumlah titik strategis sepanjang garis pantai.

IKLAN

Saat ini, empat unit EWS aktif memantau kondisi gelombang. Fasilitas keamanan ini tersebar pada area Pantai Gading, Pantai Loang Baloq, Pantai Meninting, serta Pantai Mapak Indah guna memantau kondisi dan memberikan peringatan dini jika terjadi situasi darurat.

Tragedi di Pantai Mataram Setahun Terakhir

Imbauan BPBD Kota Mataram ini berlandaskan sejumlah tragedi memilukan yang memakan korban jiwa anak-anak dalam setahun belakangan. Kawasan pesisir Mataram mencatat beberapa kasus fatal akibat hantaman ombak dan tarikan arus bawah laut.

Terbaru, akhir Mei 2026, kawasan perairan Ampenan menelan dua korban jiwa anak-anak sekaligus dalam waktu hampir bersamaan.

Dua bocah bernama Pietro (13) dan Anindita (9) hanyut terseret ombak besar saat sedang bermain serta mandi bersama rekan-rekan mereka.

Tim SAR gabungan menemukan kedua korban dalam kondisi meninggal dunia setelah melakukan pencarian intensif selama dua hari. Jasad korban bahkan sempat terbawa arus hingga wilayah perairan Bintaro. (*)

Artikel Terkait