Advertorial

Bukit Loco Senggigi Bakal Jadi Wisata Edukasi Budidaya Lebah Trigona

Lombok Barat (NTBSatu) –  Pemerintah Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, menyiapkan konsep wisata edukasi dengan menggabungkan pelestarian lingkungan dan budidaya lebah Trigona melalui program Desa Berdaya. Program tersebut menjadi bagian dari pengembangan destinasi baru di kawasan Bukit Loco, Dusun Loco. Pemerintah desa ingin menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya menawarkan panorama alam.

Kepala Desa Senggigi, Mastur mengatakan, pengunjung nantinya dapat mempelajari proses pemeliharaan hingga pengambilan madu. Pengunjung juga bisa mempelajari proses pembibitan lebah Trigona.

“Kita akan untuk budidaya Trigona. Nanti di sana tamu itu bisa eksperimen bagaimana cara budidaya lebah Trigona, bagaimana caranya mengambil madu, bagaimana caranya untuk pembibitan dan sebagainya,” jelasnya.

Konsep Yang Memberikan Pelajaran Terhadap Pengunjung

Konsep tersebut diharapkan memperkaya daya tarik pariwisata Senggigi. Sebab, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru.

“Biar pengunjung gak hanya dapat keindahan alamnya. Tapi pelajaran juga bisa mereka dapat,” jelas Mastur.

Melalui konsep tersebut, Mastur berharap Bukit Loco menjadi ruang wisata sekaligus pembelajaran lingkungan. Pengembangan ini juga diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kami percaya ini nantinya bisa membantu meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Masuk Program Desa Berdaya

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Baiq Nelly Yuniarti menjelaskan, program ini menjadi salah satu upaya Pemprov NTB mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dari 224 desa sasaran, sebanyak 216 telah memperoleh rekomendasi. Sebanyak 206 pengajuan sudah disampaikan ke Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) NTB.

“Ada 59 lainnya masih memerlukan perbaikan administrasi. Kemudian, desa yang telah menerima transfer dana tercatat sebanyak 105 desa,” Jelas Nelly, Jumat, 30 Oktober 2026.

Nelly menjelaskan, Pemprov NTB menjalankan Desa Berdaya melalui dua pendekatan, yakni Desa Berdaya Tematik dan Desa Berdaya Transformatif.

“Desa Berdaya Tematik kita arahkan, pemerintah desa dan kelurahan untuk mengembangkan potensi lokal melalui tiga tema utama, yakni ketahanan pangan, pariwisata, dan kelestarian lingkungan,” jelasnya.

Sementara itu, Desa Berdaya Transformatif menyasar langsung keluarga miskin ekstrem melalui pendampingan dan pemberdayaan ekonomi.

Dalam skema ini, satu orang pendamping bertugas mendampingi 50 kepala keluarga (KK) miskin ekstrem. Pendamping akan mengidentifikasi potensi dan kemampuan keluarga untuk menentukan jenis usaha yang sesuai.

Pemerintah kemudian memberikan bantuan modal dan peralatan usaha agar keluarga penerima manfaat dapat mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.

Pendamping juga terus mengawal perkembangan usaha sehingga bantuan tidak berhenti pada pemberian modal.

“Jadi bukan seperti Sinterklas, kita kasih duit terus selesai. Kita berikan modal untuk membeli peralatan usaha, kemudian kita dampingi. Karena tidak semua orang berbakat berbisnis langsung sukses,” jelas Nelly. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait