ITSRC Unram Mendunia, Perkuat Kolaborasi Riset dan Inovasi Rumput Laut di Simposium Global Tiongkok
Mataram (NTBSatu)— Universitas Mataram (Unram) turut berpartisipasi dalam Global Symposium on Seaweed Cooperation and Development yang digelar Xiamen University bersama FAO di Quanzhou, Tiongkok. Kepala International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) UNRAM, Dr. Eka Sunarwidhi Prasedya, mendapat kesempatan hadir sebagai salah satu pembicara pada sesi Riset dan Inovasi.
Simposium dibuka dengan sambutan Wakil Rektor Quanzhou Normal University, Xiahou Jianbing, serta sambutan video Wakil Direktur Divisi Perikanan dan Akuakultur FAO, Yuan Xinhua. Forum ini dihadiri perwakilan FAO, International Seaweed Association, Global Seaweed Coalition, UNIDO, asosiasi industri rumput laut dari Tiongkok, Filipina, Chile, dan Indonesia, serta peneliti dari berbagai negara. Pada kesempatan yang sama, UNRAM dan Xiamen University menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang diharapkan menjadi awal kerja sama riset dan pengembangan teknologi budidaya rumput laut.
Dalam paparan Improving Seed Quality in Indonesian Eucheumatoid Farming, Dr. Eka berbagi pengalaman tentang bibit rumput laut di Indonesia. Produksi nasional naik sekitar 13 kali lipat sejak 2005 hingga mencapai puncak 11,7 juta ton basah pada 2016, namun sejak 2019 bertahan di kisaran 9–10 juta ton per tahun. Lebih dari 267.000 rumah tangga pesisir, sebagian besar di wilayah timur Indonesia, menggantungkan penghasilan pada komoditas ini.
Sekitar 37 persen hasil panen dipotong dan ditanam kembali sebagai bibit, siklus demi siklus. Praktik ini murah dan mudah, tetapi dalam jangka panjang mempersempit keragaman genetik, menurunkan vigor, dan membawa penyakit ke siklus berikutnya.
“Banyak upaya perbanyakan bibit sudah dilakukan di Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memperbaiki mutu bibit itu sendiri, dan ini pekerjaan bersama. Bibit yang lebih baik baru bermakna ketika sampai ke tali bentangan pembudidaya dan ke meja makan keluarga,” ujar Dr. Eka.
Dr. Eka juga berbagi langkah yang sedang dikerjakan ITSRC bersama mitra: pemetaan populasi rumput laut liar dan budidaya dengan DNA barcoding, kultur spora, penyimpanan dan seleksi galur di Seaweed Biobank ITSRC, serta uji tanam di lokasi pembibitan sebelum disebarkan kepada pembudidaya.
“Kami banyak belajar dari pengalaman Tiongkok, yang menunjukkan bahwa pemuliaan varietas unggul membutuhkan waktu hingga satu dekade. Semoga kualitas bibit dapat menjadi salah satu bidang kerja sama dengan Xiamen University,” kata Dr. Eka.
Dr. Eka menyampaikan terima kasih kepada panitia serta mitra yang telah banyak membantu penguatan kapasitas riset ITSRC: GlobalSeaweed PROTECT, University of the Philippines, Xiamen University, Universiti Malaya, Natural History Museum London, dan Scottish Association for Marine Science. (*)




