Lombok UtaraPariwisata

Okupansi Hotel di Tiga Gili Disebut Tembus 80 Persen Usai MotoGP Mandalika 2026

Mataram (NTBSatu) – Tingkat hunian (okupansi) hotel di kawasan Tiga Gili (Trawangan, Meno, dan Air), Lombok Utara tetap tinggi usai MotoGP Mandalika 2026. Ajang balap tersebut berlangsung pada 9–11 Oktober lalu.

Pelaku usaha memproyeksikan okupansi hotel di Tiga Gili bertahan di angka 80 persen hingga akhir Oktober. Bahkan, beberapa akomodasi mencatatkan okupansi hingga 90 persen.

Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan (AHG), Lalu Kusnawan, memberikan penjelasannya. Ia menyebut dampak ajang balap internasional ini justru lebih terasa setelah acara usai (after event).

“Dampaknya lebih terasa setelah acara. Sejumlah pembalap bahkan berlibur ke Gili setelah agenda MotoGP selesai,” ujarnya.

Meski begitu, ia belum menyimpulkan apakah tingginya okupansi murni terdorong oleh MotoGP. Pihaknya masih membutuhkan pendataan lebih lanjut. Data ini penting untuk mengukur kontribusi ajang tersebut terhadap lonjakan wisatawan.

Kusnawan mencatat peningkatan kunjungan wisatawan domestik mulai terlihat sejak Jumat pekan MotoGP. Para wisatawan bersepeda mengelilingi pulau dan menikmati berbagai aktivitas wisata.

Sebagian pengunjung juga memperpanjang masa tinggal (length of stay) hingga dua malam. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Bali menggunakan kapal cepat (fast boat). Langkah ini menjadi opsi favorit untuk menyiasati keterbatasan tiket pesawat dari Lombok.

Strategi Menghadapi Low Season dan Target Akhir Tahun

Kusnawan memprediksi tingkat hunian hotel akan menurun pada awal November hingga pertengahan Desember. Penurunan ini sesuai siklus liburan wisatawan mancanegara yang menjadi pasar utama Tiga Gili.

Meski memasuki low season, para pelaku usaha tetap mematok target okupansi rata-rata 75 persen hingga akhir tahun. Untuk mencapainya, pengelola akomodasi menyiapkan berbagai strategi. Strategi tersebut meliputi penyesuaian harga kamar dan penawaran paket wisata terintegrasi.

“Industri pariwisata ini tidak pernah tidur. Karena itu, kami tetap memasang target 75 persen,” jelasnya.

Siklus Kunjungan dan Perputaran Uang

Pola kunjungan wisatawan di Tiga Gili umumnya mengikuti musim liburan internasional yakni November hingga pertengahan Desember (Penurunan kunjungan low season). Natal dan Tahun Baru (Kunjungan sedikit meningkat).

Lebih lanjut, Februari Kunjungan kembali melandai, Maret Juni meningkat saat Paskah dan stabil hingga pertengahan tahun. Juli September (Puncak kunjungan peak season bertepatan dengan libur musim panas Eropa)

Menurut Kusnawan, aktivitas pariwisata ini mendorong perputaran uang yang signifikan. Saat low season, ada sekitar 2.000 wisatawan berkunjung per hari. Perputaran uangnya diperkirakan mencapai Rp1,7 miliar per hari. Angka ini melonjak tajam saat high season dengan kunjungan 3.500 hingga 4.000 orang per hari.

Dorong Penguatan Konektivitas Laut

Kusnawan bersama AHG mendorong pemerintah untuk memperkuat konektivitas antardestinasi. Salah satu usulannya adalah membuka jalur kapal cepat baru dari Tiga Gili ke destinasi lain di Pulau Lombok.

“Konektivitas laut yang baik dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan. Hal ini juga memperbanyak pilihan rute perjalanan,” tuturnya.

Namun, ia mengingatkan agar pengembangan rute baru tetap memperhatikan keberlangsungan bisnis seluruh pelaku transportasi. Hal ini mencakup operator kapal cepat maupun penyedia angkutan darat. (*)

Artikel Terkait