Anggota Parlemen Malaysia Pakai Bahasa Jawa Desak Prabowo Atasi Karhutla
Mataram (NTBSatu) – Seorang anggota Parlemen Malaysia, Kalam Salan, menyampaikan protes terbuka kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terkait persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali mencemari udara kawasan regional dalam sidang Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran 2027 di Dewan Rakyat Malaysia, pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Dalam sidang tersebut, Kalam mendesak Pemerintah Indonesia mengambil langkah penanganan yang lebih tegas dan permanen guna menghentikan kabut asap lintas batas negara secara tuntas.
“Tolonglah masalah kabut asap yang datang setiap tahun ini diselesaikan dengan serius. Asap tebal dari kebakaran hutan Indonesia sampai ke Malaysia. Rakyat jadi susah bernapas, tenggorokan gatal, batuk. Kemudian penyakit asma semakin mengganggu kesehatan,” ujarnya, mengutip YouTube Parlemen Malaysia pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Dampak Luas
Dalam pemaparannya, Kalam itu merinci bencana asap tidak hanya melumpuhkan aktivitas harian warga lokal, tetapi juga menimbulkan kerugian berlapis di berbagai sektor publik.
Pemerintah terpaksa mengambil kebijakan penutupan sekolah demi keselamatan murid, sektor pariwisata mengalami penurunan. Selain itu, para nelayan kecil tidak berani melaut akibat jarak pandang yang sangat terbatas.
Dampak negatif tersebut turut menghantam para pekerja asal Indonesia yang menggantungkan hidup di sektor perkebunan Malaysia. Saat aktivitas luar ruangan terhenti total akibat polusi udara yang pekat, para buruh kehilangan mata pencaharian harian dan gagal mengirimkan dana penghidupan kepada keluarga di kampung halaman.
“Bukan hanya warga Malaysia, orang Indonesia yang bekerja di perkebunan Malaysia pun terkena dampaknya. Saat tidak bisa bekerja, mereka tidak mendapat gaji dan tidak bisa mengirimkan uang untuk keluarga mereka di kampung halaman Indonesia,” tegasnya.
Seruan Tegas Menggunakan Bahasa Jawa
Menjelang akhir penyataannya, Kalam menyentil pihak-pihak yang menyikapi persoalan lingkungan ini secara tidak serius atau menjadikannya bahan lelucon. Ia menolak narasi keliru yang menyebut bahwa klaim kiriman oksigen dari hutan Indonesia membenarkan terjadinya paparan asap saban tahun.
Guna memastikan pesannya tersampaikan secara efektif kepada pimpinan tertinggi di Indonesia, ia beralih menggunakan Bahasa Jawa yang fasih di tengah ruang sidang dewan.
Melalui dialog berbahasa daerah tersebut, ia juga menekankan pentingnya komitmen bersama. Terutama dalam memadamkan titik api secara tuntas demi mewujudkan kualitas udara bersih bagi masyarakat kedua negara.
“Pripun kabare, paringi waras nggih? Kulo arep ngomong soal kabut asep sing saben tahun kok meneh songko Indonesia nganti Malaysia. Aja malah iki digawe guyonan, digawe luconan,” (Bagaimana kabarnya, semoga diberikan kesehatan ya? Saya ingin bicara soal kabut asap yang setiap tahun terjadi lagi dari Indonesia sampai ke Malaysia. Jangan sampai hal ini justru jadi bahan guyon, jadi bahan lelucon) ujarnya. (*)




