Kemarau Panjang, Petani Sayur Sembalun Kehilangan Hasil Panen
Lombok Timur (NTBSatu) – Kemarau panjang membuat petani sayur di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), kesulitan mempertahankan hasil panen. Minimnya pasokan air membuat tanaman mengering, bahkan sebagian petani memilih mengosongkan lahan sambil menunggu hujan.
Julaeman, salah seorang petani sayur di Sembalun, mengatakan hampir semua jenis tanaman hortikultura terdampak kekeringan. Tanaman bawang putih, wortel, kol, tomat hingga stroberi membutuhkan pasokan air yang cukup untuk tumbuh optimal.
Namun, minimnya air membuat tanaman di kebun petani mengering sebelum menghasilkan panen yang maksimal.
“Bawang putih yang kami tanam sudah mati, kering. Banyak juga yang gagal, terutama yang menanam belakangan ini,” kata Julaeman, Jumat, 23 Oktober 2026.
Kondisi tersebut memaksa petani menunda penanaman berikutnya. Mereka memilih membiarkan lahan kosong sampai hujan turun dan pasokan air kembali mencukupi.
Menurut Julaeman, petani yang mengandalkan sumur bor juga menghadapi keterbatasan air. Satu sumur bor setidaknya harus melayani 10 orang petani, itu pun hanya untuk lahan yang berada di dekat sumber air.
“Sekarang petani di sini menunggu hujan baru menanam. Air di sumur bor juga sedikit. Terus bukan semuanya punya sumur bor” ujarnya.
Kekeringan turut memangkas pendapatan petani. Sebelum kemarau panjang, Julaeman memperkirakan hasil bersih dari satu petak tanaman wortel bisa mencapai Rp6 juta hingga Rp7 juta.
Kini, sebagian petani hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Penurunan tersebut terjadi karena tanaman tidak tumbuh optimal sehingga petani kesulitan memaksimalkan hasil panen.
Di tengah penurunan produktivitas, harga tomat justru meningkat. Julaeman menyebut harga tomat saat ini berkisar Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram, sedangkan sebelumnya sekitar Rp3.000 per kilogram.
Namun, kenaikan harga belum cukup mengimbangi kerugian akibat tanaman yang mengering dan hasil panen yang menurun.
“Sekarang harga tomat naik, tetapi tanamannya cepat layu karena kekurangan air,” tuturnya.
Julaeman menilai, kemarau tahun ini menjadi salah satu kondisi terparah yang dirasakan petani. Hampir seluruh jenis sayuran di lahannya maupun kebun petani lain mengalami dampak serupa.
Tekan Pendapatan Masyarakat
Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, mengakui kekeringan tidak hanya menyulitkan petani mendapatkan air, tetapi juga mengganggu produktivitas pertanian dan pendapatan masyarakat.
Menurutnya, petani yang tidak mampu mengoptimalkan hasil pertanian berisiko kehilangan sumber penghasilan utama. Kondisi tersebut turut memperbesar kerentanan ekonomi keluarga dan mendorong bertambahnya angka kemiskinan.
“Semakin banyak kemiskinan, karena mereka tidak bisa mengoptimalkan hasil pertaniannya karena kekeringan itu,” ujar Haerul.
Dampak yang dirasakan petani Sembalun menunjukkan bahwa kemarau panjang tidak hanya menjadi persoalan ketersediaan air.
Kondisi ini juga mengancam keberlanjutan usaha tani dan penghasilan keluarga yang bergantung pada sektor pertanian. (*)




