Kota Bima

Wali Kota Bima Doa Minta Hujan, Warga Justru Lakukan Aksi Bakar Lahan 

Bima (NTBsatu) – Wali Kota Bima H.A.Rahman H.Abidin bersama Staf Ahli, Asisten, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kepala Bagian, Camat, dan Lurah se-Kota Bima melakukan Salat Istiska (Salat minta Hujan).

Salat Istiska berlangsung di Kantor Pemkot Bima, Nusa Tenggara Barat.

Dalam momentum itu, orang nomor satu di Kota Bima menyampaikan bahwa Salat Istiska bukan sekedar ibadah. Tetapi juga menjadi momentum bagi seluruh masyarakat untuk menyadari keterbatasan manusia dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Saya mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa rahmat, keberkahan, serta kehidupan bagi seluruh makhluk. Sekaligus menyuburkan tanah dan mengisi kembali sumber-sumber air yang masyarakat butuhkan,” kata Wali Kota Bima.

Di tengah kondisi kekeringan, Wali Kota menegaskan bahwa doa harus berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya menunggu hujan turun, tetapi harus terus mengambil langkah konkret untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

“Doa dan ikhtiar bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya harus berjalan beriringan. Kita berdoa dengan penuh keyakinan dan bekerja dengan penuh tanggung jawab,” tambahnya.

Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan kondisi kekeringan sebagai momentum introspeksi diri dengan memperbanyak istigfar. Kemudian memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, memperkuat kepedulian terhadap sesama, dan meningkatkan rasa syukur atas nikmat air yang selama ini kerap dianggap biasa.

Menurutnya, air merupakan sumber kehidupan yang harus terjaga dan penggunaannya secara bijaksana. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Tetapi juga demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Warga Bakar Lahan

Ironisnya, saat Wali Kota mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memperbanyak doa agar Allah SWT menurunkan hujan, warga di Kota Bima justru melakukan aksi pembakaran hutan atau lahan pertanian. 

Seperti yang terjadi di kawasan Doro Mbolo, perbatasan Kelurahan Lampe, Kota Bima, dengan Desa Ntori, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima. 

Parahnya lagi, aktivitas ini berlangsung tidak jauh dari pos kehutanan BKPH Maria Donggomasa. Sekadar informasi, lokasi ini merupakan daerah resapan air yang penting bagi Kota Bima. 

Namun, lahan di bagian hulu justru dibuka dan dibakar untuk persiapan penanaman jagung. 

Selain itu, terpantau juga pembakaran lahan pertanian di gunung Kelurahan Panggi. Di tengah kekeringan panjang yang melanda, justru warga tetap melakukan pembakaran lahan. (MSR)

Artikel Terkait