Lombok TimurPemerintahan

Pemkab Lombok Timur dan UMY Kembangkan SIGUMI untuk Mitigasi Bencana di Rinjani

Lombok Timur (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan mitigasi bencana berbasis digital melalui aplikasi Sistem Informasi Gunung Merapi Inklusif (SIGUMI).

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian di Rupatama 1 Kantor Bupati Lombok Timur.

Kegiatan ini juga mencakup diseminasi hasil penelitian, sosialisasi, serta pelatihan mitigasi bencana melalui skema riset komunikasi bencana inklusif.

Inovasi ini bertujuan mendukung pariwisata berkelanjutan di kawasan wisata gunung berapi, khususnya Gunung Merapi di Yogyakarta, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, mengapresiasi kontribusi UMY dalam memperkuat mitigasi bencana di daerahnya.

Ia menilai, Lombok Timur memiliki kekayaan alam yang indah dan subur, tetapi juga menghadapi ancaman bencana yang cukup besar.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur sangat mendukung tidak hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda),” ujar Haerul, 13 Oktober 2026.

Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendorong digitalisasi dalam berbagai sektor, termasuk penanggulangan bencana.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat membantu pemerintah mengantisipasi risiko bencana di kawasan wisata.

“Kami bersyukur dengan hadirnya SIGUMI untuk antisipasi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur, Lalu Mulyadi menjelaskan, daerahnya memiliki posisi strategis dalam pengembangan pariwisata nasional.

Salah satunya melalui Kawasan Gunung Rinjani yang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Lotim Hadapi 11 Ancaman Bencana

Namun, potensi pariwisata tersebut beriringan dengan risiko bencana. Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) 2025–2030, NTB menempati peringkat ketujuh secara nasional dalam tingkat kerawanan bencana.

“Lombok Timur sendiri memiliki hampir 11 jenis ancaman bencana,” ungkap Mulyadi.

Ancaman tersebut meliputi erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin puting beliung, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga tsunami.

Mulyadi juga mengungkapkan bahwa laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 30 September 2026 mencatat Gunung Rinjani sempat berada pada Level II.

“Apabila satu tingkat lagi naik menjadi Level Waspada, maka BPBD akan segera memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk melakukan evakuasi pada pengunjung wisata yang sedang beraktivitas di kawasan Gunung Rinjani,” jelasnya.

Menurut Mulyadi, kondisi tersebut menuntut BPBD memperkuat kapasitas kelembagaan dan kemampuan personel dalam menghadapi keadaan darurat.

BPBD membutuhkan dukungan teknologi untuk mempercepat koordinasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

“Dengan aplikasi SIGUMI, diharapkan tim akan lebih mudah menentukan titik korban atau lebih cepat mengeluarkan rekomendasi dan peringatan dini,” katanya.

SIGUMI usung Empat Pilar

Ketua Tim Peneliti Riset Inovatif Produktif (Rispro), Adhiyanti Nurjanah menjelaskan, SIGUMI mengusung empat pilar utama.

Keempatnya meliputi mitigasi bencana, komunikasi inklusif, kolaborasi pentahelix, dan pariwisata berkelanjutan.

Adhiyanti menyebut, BPBD dan Dinas Pariwisata akan bertugas sebagai administrator aplikasi.

Ia juga mengajak masyarakat, khususnya para pendaki, untuk berpartisipasi dalam penggunaan aplikasi tersebut.

“Semua pihak diharapkan dapat mengunduh aplikasi ini, terutama para pendaki, dan benar-benar menjadi kontributor untuk mengurangi risiko bencana di sekitar gunung berapi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan regulasi untuk memperkuat upaya mitigasi bencana di daerah.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyampaikan hasil penelitian yang telah berlangsung selama satu tahun.

“Riset ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjawab persoalan mitigasi bencana, khususnya di Lombok Timur,” ujarnya.

SIGUMI merupakan aplikasi berbasis mobile yang menyediakan informasi mitigasi bencana gunung berapi bagi masyarakat, wisatawan, pengelola destinasi, dan pemerintah.

Aplikasi ini mengandalkan informasi peringatan dini pada fase prabencana serta data koordinat untuk membantu penanganan saat tanggap darurat.

Saat ini, pengembang masih menyiapkan aplikasi tersebut sebelum tersedia melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Melalui SIGUMI, pemerintah dan tim peneliti berharap masyarakat serta wisatawan semakin memahami potensi bahaya gunung berapi.

SIGUMI mendorong masyarakat membangun budaya sadar bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat. (*)

Artikel Terkait