Desa Adat Limbungan, Kampung Sasak di Kaki Rinjani
Lombok Timur (NTBSatu) – Jalan berkelok membawa wisatawan menuju Desa Adat Limbungan di Desa Perigi, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Sesampainya di kawasan itu, suasana pedesaan langsung terasa.
Rumah-rumah bambu berdiri berderet dengan atap jerami. Warga menjalani aktivitas sehari-hari tanpa banyak polesan untuk kebutuhan wisata. Perempuan masih mengenakan kereng, sarung khas perempuan Sasak, sementara sebagian warga sibuk mengolah hasil pertanian.
Pemandangan di Desa Adat Limbungan juga menjadi daya tarik tersendiri.
Dari kawasan desa adat, wisatawan dapat menghadap ke selatan untuk melihat hamparan laut. Jika mengarahkan pandangan ke utara, Gunung Rinjani berdiri megah di kejauhan.
Desa Adat Limbungan berada di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (MDPL). Lokasinya berjarak sekitar 30 kilometer dari Sembalun.
Kondisi itu membuat Limbungan menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana kampung tradisional Sasak.
Ahmad Nur Abdul Aziz, salah seorang wisatawan yang pernah berkunjung ke Desa Adat Limbungan, merasakan perubahan akses menuju kawasan tersebut.
Aziz mengatakan, saat pertama kali berkunjung, kondisi jalan menuju Limbungan masih cukup buruk. Kini, akses tersebut mulai mengalami perbaikan.
“Pertama kali ke sana jalannya masih jelek. Akses ke arah Limbungan Barat dan sebelah timur itu sangat jelek. Sekarang sudah ada perubahan, sedikit lebih bagus,” kata Aziz, Jumat, 4 September 2026.
Selain akses, ia tertarik dengan bentuk rumah tradisional yang masih bertahan di kawasan tersebut. Rumah-rumah Limbungan memiliki karakter yang mirip dengan rumah adat Sade.
Lantainya menggunakan tanah. Warga juga masih mempertahankan tradisi membersihkan lantai menggunakan kotoran sapi.
Ratusan rumah berdiri di kawasan Desa Adat Limbungan. Warga menempatinya secara turun-temurun sehingga kehidupan tradisional tetap terasa dalam keseharian.
Berbeda dengan Desa Adat Sade yang ramai dengan pedagang suvenir, Limbungan justru menawarkan kesan lebih alami. Wisatawan tidak banyak menemukan penjual aksesori.
Sebaliknya, wisatawan dapat melihat aktivitas warga mengolah hasil pertanian. Salah satunya aktivitas memotong hingga menjemur tembakau dari lahan milik warga.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pengalaman wisata di Limbungan. Wisatawan tidak hanya melihat bangunan tradisional, tetapi juga kehidupan masyarakat yang masih berjalan sebagaimana biasanya.
Limbungan Menunggu Sentuhan Pengelola
Namun, potensi tersebut masih menyisakan pekerjaan rumah.
Aziz menilai, pengelolaan wisata di Desa Adat Limbungan belum terlihat jelas. Ketika berkunjung, ia sempat kebingungan mencari pihak yang dapat memberikan informasi mengenai kawasan tersebut.
“Kalau kita sebagai wisatawan yang berkunjung ke sana bingung mau tanya siapa. Tidak ada pengelola wisatanya,” ujarnya.
Menurut Aziz, masyarakat, terutama kalangan pemuda, dapat mengambil peran lebih besar untuk mengembangkan potensi tersebut.
Pengelola dapat membuat penanda, informasi mengenai rumah adat, hingga fasilitas sederhana yang membantu wisatawan mengenal Limbungan.
“Harus ada pengelola wisata, pemuda di sana yang berinisiatif membuat sesuatu. Biar ada tanda-tandanya sebagai tempat wisata rumah adat,” katanya.
Potensi alam dan budaya sebenarnya sudah menyatu di Desa Adat Limbungan. Tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah mengemasnya tanpa menghilangkan kehidupan tradisional yang menjadi kekuatan utama kawasan tersebut.
Dengan akses yang terus membaik, Limbungan memiliki peluang untuk menjadi salah satu destinasi wisata budaya Lombok Timur yang menawarkan pengalaman berbeda.
Datang bukan sekadar melihat rumah adat, tetapi menyaksikan kehidupan Sasak yang masih berjalan di antara laut dan Rinjani. (*)




