AdvertorialPendidikan

Biaya Wisuda Dipersoalkan, STKIP Tamsis Bima Buka Perbandingan Struktur Biaya

Bima (NTBSatu) – Polemik biaya wisuda sebesar Rp2.150.000 di STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima mendapat tanggapan dari pihak kampus.

Kampus menilai, mahasiswa dan masyarakat perlu memahami struktur biaya pendidikan secara menyeluruh sebelum menilai kebijakan tersebut.

Staf Khusus Ketua STKIP Tamsis Bima Bidang Hubungan Sosial Kemasyarakatan dan Kemahasiswaan, Taufik, SH., MH., memahami keberatan mahasiswa terhadap biaya tambahan menjelang kelulusan. Namun, ia meminta publik melihat keseluruhan skema pembiayaan selama mahasiswa menjalani pendidikan.

IKLAN

“Kami memahami keberatan yang disampaikan mahasiswa. Tetapi ada baiknya masyarakat juga melihat bagaimana struktur biaya di kampus ini berjalan, supaya semua pihak punya pijakan yang sama sebelum menilai,” ujarnya, Selasa, 1 September 2026.

Rincian Biaya Kuliah

Taufik menjelaskan, sepanjang 2021 hingga 2025, mahasiswa STKIP Taman Siswa Bima hanya membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Kampus tidak menarik uang pembangunan maupun biaya bimbingan konsultasi tugas akhir, seperti skripsi atau artikel.

UKT Pendidikan Sejarah, Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, serta Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) mencapai Rp1.950.000 per semester. Pendidikan Teknologi Informasi sebesar Rp2.450.000, sedangkan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mencapai Rp2.600.000 per semester.

IKLAN

Kampus juga memberikan opsi pembayaran secara cicilan. Mahasiswa cukup membayar minimal 50 persen pada awal semester sebagai syarat pengisian Kartu Rencana Studi (KRS). Sejumlah mahasiswa juga memperoleh bantuan yayasan selama masa pendidikan.

Menurut perhitungan kampus, kondisi tersebut membuat beban rata-rata mahasiswa berkisar Rp325.000 hingga Rp433.333 per bulan. Kampus menilai angka tersebut relatif terjangkau dibandingkan biaya pendidikan tinggi pada umumnya.

Taufik juga menjelaskan perkembangan fasilitas kampus selama periode tersebut. STKIP Taman Siswa Bima membangun dua gedung dua lantai dengan masing-masing enam ruang kelas, satu gedung tiga lantai dengan sembilan ruang kelas, serta gedung berkapasitas 100 orang.

Kampus juga melakukan renovasi besar pada auditorium. Setiap ruang kelas baru memiliki AC, LCD proyektor tanam, dan kursi perkuliahan. Saat ini, kampus memasuki tahap pengukuran untuk pembangunan gedung dua lantai dengan enam ruang serta lapangan olahraga multifungsi.

“Pembangunan ini berjalan tanpa membebankan uang pembangunan kepada mahasiswa. Itu yang ingin kami sampaikan sebagai perbandingan, supaya masyarakat bisa menilai secara utuh, bukan sepotong-sepotong,” kata Taufik.

Terkait biaya wisuda Rp2.150.000, Taufik menjelaskan kampus memisahkannya dari UKT karena kegiatan wisuda berada di luar proses pembelajaran. Dana tersebut mencakup kostum wisuda, dokumentasi foto, persiapan teknis acara, serta konsumsi peserta dan perwakilan orangtua.

“Membayar biaya wisuda bukan sesuatu yang tabu di dunia pendidikan tinggi. Ini hal yang normatif dan tidak melanggar ketentuan maupun aturan yang berlaku,” ujar Taufik.

Pihak kampus berharap penjelasan tersebut membantu mahasiswa dan masyarakat memahami struktur pembiayaan secara utuh. Kampus juga membuka ruang dialog untuk membahas besaran serta mekanisme pembayaran biaya wisuda pada masa mendatang. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait