Dari Desa ke Dunia Industri, Cara AMMAN Menyiapkan Talenta Siap Kerja
Pendidikan vokasi tak berhenti di ruang kelas. Melalui program beasiswa, grup Amman Mineral Internasional (AMMAN) membekali anak muda Sumbawa Barat dengan keterampilan siap kerja. Hasilnya?
Mataram (NTBSatu) – Deru mesin sejak matahari terbit menjadi keseharian di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah. Di antara ratusan pekerja di sana, Muhammad Iqram, bertugas sebagai sebagai mekanik alat berat. Ia bekerja bersama mesin-mesin berukuran besar, jauh dari kehidupan yang pernah dijalaninya di Sumbawa Barat.
Dulu, selepas sekolah, Iqram terbiasa membantu keluarganya. Ia ikut bekerja di sawah, menimbang gabah dan melakukan pekerjaan lain untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Saat itu, ayahnya sedang sakit, sementara ibunya harus mengurus keluarga dan lahan pertanian.
Seperti itulah keseharian Iqram sebelum mengenal pendidikan vokasi. Ketika kesempatan mengikuti seleksi Beasiswa Vokasi AMMAN datang selepas lulus SMP, ia sebenarnya tidak yakin akan berhasil.
“Banyak yang meragukan sebenarnya, bahkan di keluarga sendiri ada yang gak yakin saya bisa lolos,” kata Iqram kepada NTBSatu, Sabtu 25 Juli 2026.
Namun, ia akhirnya diterima dan menempuh pendidikan Teknik Alat Berat di SMK PGRI 2 Ponorogo, Jawa Timur. Untuk pertama kalinya, Iqram harus meninggalkan keluarga dan hidup jauh dari kampung halaman.
Selama pendidikan, kebutuhan dasarnya tidak lagi menjadi beban keluarga. Biaya sekolah, tempat tinggal, makan, seragam hingga uang saku ditanggung melalui program beasiswa.
Namun, bagi Iqram, dukungan itu baru satu bagian. Selama menjadi penerima beasiswa, ia juga mengikuti berbagai pembekalan. Setiap beberapa bulan, terdapat bootcamp yang memberikan materi pengembangan diri, kepemimpinan, pengelolaan keuangan dan pembentukan karakter. Para penerima juga mendapatkan pendampingan dari mentor.
“Bukan cuma dibantu sekolah. Kami benar-benar dibentuk mentalnya supaya siap bekerja,” ujar Iqram.
Kini, keterampilan yang diperolehnya telah membawanya memasuki dunia kerja. Penghasilannya juga mulai bisa membantu keluarga di kampung halaman.
“Alhamdulillah, sekarang bisa membantu orang tua. Bisa membeli kebutuhan sendiri dan keluarga. Yang paling saya syukuri, hidup kami berubah menjadi lebih baik.”
Sebuah Harapan Untuk Anak Muda
Bagi sebagian anak muda di Kabupaten Sumbawa Barat, melanjutkan sekolah ke luar daerah bukan perkara sederhana. Jarak, biaya hidup, pilihan sekolah, hingga bayangan tentang dunia kerja setelah lulus menjadi pertimbangan yang tidak selalu mudah untuk mereka jawab.
Namun, bagi Muhammad Iqram, Harry Ramadhani, dan Marsya Septiana, persoalan itu perlahan menemukan jalan keluarnya melalui pendidikan vokasi.
Ketiganya datang dari latar belakang berbeda. Iqram tumbuh di keluarga petani dan sempat bekerja serabutan ketika masih duduk di bangku SMP. Harry semula hanya membayangkan sekolah dan bekerja tidak jauh dari kampung halamannya. Sementara Marsya mengaku sebagai pribadi yang introvert dan bahkan sempat merasa tidak cukup pintar untuk mendapatkan beasiswa.
Kini, ketiganya telah memasuki dunia kerja. Iqram bekerja sebagai mekanik alat berat di PT Bornusa Peralatan Indonesia dan sedang ditugaskan di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Harry bekerja di bidang otomasi pada industri manufaktur di Surabaya. Sementara Marsya menekuni profesinya sebagai hair stylist di Jakarta Selatan.
Jarak antara kehidupan mereka ketika masih di desa dengan posisi mereka hari ini bukan hanya ditempuh melalui ruang kelas. Ada keterampilan, pengalaman praktik, pembentukan karakter, pendampingan, hingga pengenalan terhadap dunia industri yang berjalan bersamaan. Pola itulah yang menjadi bagian dari desain Program Beasiswa Vokasi AMMAN.

Dari Kampung, Membuka Cakrawala
Harry Ramadhani kini bekerja di bidang otomasi pada industri manufaktur di Surabaya. Lingkungan kerja itu jauh berbeda dari bayangannya ketika masih tinggal di Kecamatan Seteluk, Sumbawa Barat.
Dulu, Harry hanya membayangkan kehidupan yang tidak jauh dari kampung. Ia ingin membantu orang tua, menggembala sapi, lalu bekerja di sekitar tempat tinggalnya.
“Saya dulu memang berpikir dunia itu hanya di sekitar rumah saja, jadi niatnya mau kerja di kampung aja waktu itu,” kata Harry kepada NTBSatu pada 25 Juli 2026.
Seperti itulah cara Harry melihat masa depannya sebelum mendapat kesempatan menempuh pendidikan vokasi.
Program Beasiswa AMMAN kemudian memperluas pandangannya. Ia menempuh pendidikan Teknik Otomasi Industri di SMK NU Ma’arif Kudus.
Selain pendidikan formal, Harry mengikuti Amman Scholars Leadership Camp yang diselenggarakan secara berkala. Di sana, para peserta mendapatkan pembekalan tentang cara berpikir, kepemimpinan, komunikasi, hingga bagaimana merencanakan dan mencapai tujuan.
Perubahan itu kemudian bertemu dengan pengalaman praktik.
Harry menjalani magang di sejumlah perusahaan manufaktur, mulai dari Solo, Karawang hingga perusahaan tempatnya bekerja sekarang di Surabaya.
Pengalaman tersebut membawanya memasuki dunia kerja di bidang otomasi. Ia juga memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan yang dibiayai perusahaan tempatnya bekerja.
“Setelah ikut program ini, para mentor buat saya sadar, ternyata masih banyak yang bisa dilihat dan masih banyak kesempatan yang bisa diraih,” ujar Harry.
Meski kini bekerja di luar daerah, Harry tetap menyimpan keinginan untuk kembali ke Sumbawa Barat.
“Saya ingin mencari pengalaman dulu. Kalau nanti sudah benar-benar sukses dan berkecukupan, saya ingin pulang tanpa beban.”
Dari Rasa Ragu Menjadi Percaya Diri
Di sebuah salon di Jakarta Selatan, Marsya Septiana kini menjalani profesinya sebagai hair stylist. Ia bekerja di Studio K Hair and Beauty, jauh dari Taliwang, tempat ia tumbuh sebagai anak pertama dari empat bersaudara.
Kehidupan Marsya hari ini berbeda dengan dirinya ketika pertama kali mendaftar Beasiswa AMMAN. Saat itu, ia mengaku sebagai pribadi yang introvert dan tidak percaya diri. Bahkan, ia sempat menganggap beasiswa hanya diperuntukkan bagi siswa yang pintar.
“Sejak SMP memang saya introvert sekali. Pas daftar beasiswa AMMAN saya pikir tidak mungkin saya lolos,” kata Marsya kepada NTBSatu pada 26 Juli 2026.
Seperti itulah Marsya sebelum pendidikan vokasi perlahan mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri.
Ia kemudian menempuh pendidikan di SMK PGRI 1 Kudus. Selama sekolah, Marsya mulai aktif dalam organisasi, mengikuti kegiatan teater dan terlibat dalam OSIS.
Ia yang sebelumnya takut berbicara di depan banyak orang mulai terbiasa tampil dan berkomunikasi.
Perubahan itu juga terlihat dari prestasi akademiknya. Untuk pertama kalinya, Marsya berhasil menjadi peringkat pertama di kelas.
Kini, pendidikan yang ditempuhnya telah membawanya memasuki dunia kerja di bidang kecantikan.
“Karena saya bisa mengurangi beban ekonomi orang tua saya. Pokoknya saya bersyukur banget bisa jadi anak beasiswa AMMAN,” ujar Marsya.

Bukan Sekadar Membayar Sekolah
Tiga cerita tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi tidak berhenti pada kemampuan teknis di ruang kelas.
Ada persoalan lain yang perlu dipersiapkan sebelum seorang lulusan benar-benar masuk ke dunia kerja. Misalnya keberanian, komunikasi, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi dan pengalaman menghadapi lingkungan profesional.
Karena itu, AMMAN merancang program beasiswanya tidak hanya dalam bentuk pembiayaan pendidikan.
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, mengatakan program beasiswa vokasi AMMAN diarahkan untuk memperluas akses anak muda daerah terhadap pendidikan berkualitas. Hal itu sekaligus untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Permasalahan yang ingin dijawab bukan hanya soal keterbatasan akses pendidikan, tetapi juga kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan pasar kerja,” kata Aji kepada NTBSatu dalam keterangan resminya, 5 Agustus 2026.
Menurut dia, para penerima dibekali hard skill, soft skill, pengalaman praktik serta kesiapan untuk bekerja, berwirausaha maupun berkontribusi di berbagai sektor.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan ditempatkan bukan sekadar sebagai jalan memperoleh ijazah. Pendidikan juga menjadi proses mempersiapkan seseorang untuk menghadapi dunia setelah sekolah.
239 AMMAN Scholars dan Jalur Vokasi
Komitmen tersebut kemudian diterjemahkan dalam skala program. Hingga periode 2021- 2025, AMMAN telah mendukung 239 AMMAN Scholars melalui program beasiswa SMK unggulan. Sebanyak 78 penerima telah menyelesaikan pendidikan pada 2024 dan 2025.
Pada 2026, AMMAN kembali memberikan beasiswa kepada 61 AMMAN Scholars untuk menempuh pendidikan di sejumlah SMK mitra unggulan yang tersebar di Kudus, Malang dan Ponorogo.
Bidang yang ditawarkan pun diarahkan pada kebutuhan keterampilan yang beragam. Mulai dari Teknik Alat Berat, Teknik Otomasi Industri, Teknik Mesin, Teknik Pengelasan, Teknik Ketenagalistrikan dan Teknik Elektronika, hingga bidang Animasi, Desain Komunikasi Visual, Busana, Kecantikan dan SPA, Perhotelan serta Kuliner.
Selain program formal, AMMAN juga menjalankan beasiswa vokasi nonformal berupa pelatihan keterampilan jangka pendek selama enam hingga 12 bulan.
Pada sektor hospitality, misalnya, sepanjang 2022-2024 terdapat 302 penerima beasiswa pelatihan. Sebanyak 87 persen lulusan program tersebut tercatat telah bekerja di Sumbawa Barat, Lombok dan Bali. Sebanyak 52 persen pesertanya merupakan perempuan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa jalur pendidikan vokasi tidak harus berakhir pada satu jenis pekerjaan atau satu perusahaan.
Justru sebaliknya, semakin luas keterampilan yang dimiliki, semakin besar pula pilihan yang tersedia bagi lulusan.

Tidak Harus Kembali ke AMMAN
Ada satu hal yang membedakan pendekatan program ini dengan skema ikatan dinas.
Para penerima beasiswa tidak diwajibkan bekerja di AMMAN setelah menyelesaikan pendidikan. Bagi perusahaan, tujuan akhirnya bukan menciptakan tenaga kerja yang hanya diperuntukkan bagi kebutuhan internal.
“Program ini tidak dirancang sebagai ikatan dinas, melainkan sebagai inisiatif pemberdayaan masyarakat,” ujar Aji.
AMMAN, kata dia, ingin para penerima memiliki bekal keterampilan dan karakter untuk menentukan masa depannya sendiri. Mereka dapat bekerja di sektor pertambangan, industri lain, berwirausaha maupun kembali membangun daerah.
Pilihan itu menjadi penting karena dunia kerja tidak selalu tersedia di tempat seseorang dilahirkan.
Bagi AMMAN, keluasan pilihan tersebut justru menjadi bagian dari tujuan program. Kesempatan bagi generasi muda Sumbawa Barat untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman di berbagai industri dipandang sebagai investasi jangka panjang.
Termasuk untuk menghadapi masa depan daerah setelah aktivitas pertambangan berakhir.
Mengukur Dampak dari Kehidupan Setelah Lulus
Ukuran keberhasilan program pun tidak berhenti pada berapa banyak beasiswa yang diberikan atau berapa orang yang lulus.
Menurut Aji, AMMAN melihat dampak program dari sejumlah aspek, mulai dari capaian pendidikan, peningkatan keterampilan teknis dan soft skill, pengalaman magang, kesiapan kerja, peluang bekerja atau berwirausaha, hingga tingkat kemandirian penerima.
Dengan ukuran tersebut, keberhasilan beasiswa tidak selesai ketika seorang siswa menerima ijazah.
Ukuran yang lebih jauh adalah apa yang terjadi setelahnya.
Apakah mereka mampu memasuki dunia kerja? Apakah keterampilan yang diperoleh benar-benar digunakan? Apakah mereka mampu membantu keluarga? Dan yang tidak kalah penting, apakah mereka memiliki pilihan yang lebih luas dibanding sebelum mendapatkan pendidikan?
Jawabannya mulai terlihat dari perjalanan para alumninya.
Iqram yang dulunya membantu pekerjaan di sawah kini bekerja menangani alat berat di kawasan industri Morowali. Harry yang semula hanya membayangkan kehidupan di sekitar kampung kini bekerja di bidang otomasi manufaktur dan mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan.
Sementara Marsya, yang dulunya merasa tidak percaya diri, kini bekerja di industri kecantikan di Jakarta dan telah membuktikan kemampuannya sejak duduk di bangku sekolah.
Ketiganya berasal dari desa, menempuh pendidikan jauh dari rumah, lalu masuk ke dunia kerja yang lebih luas.
Pada titik itu, beasiswa tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang membayar biaya sekolah.
Ia berbicara tentang bagaimana sebuah kesempatan pendidikan dapat memperluas pilihan hidup seseorang.
Dari desa ke kota, dari ruang kelas ke tempat kerja, pendidikan vokasi menjadi jembatan yang mempertemukan potensi anak muda daerah dengan kebutuhan dunia industri.
Dan bagi AMMAN, jembatan itu bukan hanya untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja hari ini, tetapi membangun talenta yang memiliki pilihan dan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri. (*)




