Desa Tepal Hidupkan Kembali Permainan Tradisional untuk Generasi Muda
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, menghidupkan kembali permainan tradisional dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemerintah Desa Tepal menggelar perlombaan bersama Karang Taruna, mahasiswa KKL UIN Mataram Kelompok 9, dan masyarakat. Kegiatan tersebut mengajak anak-anak mengenal kembali permainan tradisional yang mulai jarang mereka mainkan.
Ketua panitia sekaligus pemuda Desa Tepal, Paesal Bakri, S.Pd., menyambut antusias kegiatan tersebut. Ia mengaku senang karena anak-anak kembali memainkan permainan yang pernah ia mainkan saat kecil.
“Saya selaku pemuda Tepal sekaligus ketua panitia acara sangat-sangat antusias dan senang sekali. Sebab, permainan yang dulu waktu saya kecil kita mainkan kembali bersama teman-teman KKL serta adik-adik sekolah se-Desa Tepal,” ujar Paesal kepada NTBSatu, Senin, 17 Agustus 2026.
Panitia menghadirkan sejumlah permainan tradisional dalam perlombaan tersebut. Permainan itu meliputi grobak, pakek atau gasing menggunakan miri, kratak, mlike, dan pakgengeng.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal permainan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Tepal.
Menurut Paesal, kegiatan itu juga menghadirkan suasana bermain yang berbeda bagi anak-anak. Sebab, mereka dapat berinteraksi langsung dengan teman sebaya melalui permainan tradisional.
Kepala Desa Tepal, Haji Sudirman, turut mengapresiasi pelaksanaan perlombaan tersebut. Menurutnya, kegiatan itu membantu mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak.
“Kami pihak desa sangat mengapresiasi kegiatan perlombaan ini. Perlombaan ini menaikkan kembali permainan tradisional yang sudah mulai hilang di kalangan anak-anak zaman sekarang,” ujar Sudirman.
Selain itu, Sudirman berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan semangat anak-anak dalam melestarikan permainan tradisional. Ia juga ingin anak-anak mengurangi kebiasaan bermain telepon seluler.
Dengan begitu, anak-anak dapat mengenal kembali permainan yang pernah mengisi masa kecil orang tua mereka. Mereka juga dapat memahami nilai kebersamaan melalui aktivitas bermain bersama.
Berlangsung Dua Hari Dua Malam
Panitia menjalankan rangkaian kegiatan selama kurang lebih dua hari dua malam. Pada sore hari, anak-anak sekolah mengikuti berbagai perlombaan permainan tradisional.
Kemudian, panitia melanjutkan kegiatan pada malam hari dengan perlombaan akademik. Peserta mengikuti lomba baca puisi dan pidato.
Menurut Paesal, kegiatan tersebut berjalan berkat kerja sama berbagai pihak. Pemerintah desa, Karang Taruna, mahasiswa KKL, dan masyarakat ikut menyukseskan seluruh rangkaian acara.
“Saya bangga dengan kinerja pihak desa, Karang Taruna, serta teman-teman KKL yang sudah membantu menyukseskan acara perlombaan yang kita mainkan kurang lebih dua hari dua malam,” katanya.
Ke depan, Paesal berharap masyarakat Desa Tepal terus menggelar kegiatan serupa. Ia ingin tradisi permainan tradisional tetap hidup dan dikenal generasi muda.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk menjaga kegiatan tersebut sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan. Dengan cara itu, anak-anak dapat mengenal permainan tradisional secara langsung.
“Saya berharap di tahun-tahun berikutnya kegiatan semarak semacam itu terus kita laksanakan. Agar tradisi permainan tradisional sampai ke generasi-generasi seterusnya,” pungkasnya. (*)




