Ekonomi BisnisLombok Barat

Rupiah Melemah, Harga Kedelai di Lombok Barat Masih Stabil

Lombok Barat (NTBSatu) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), masih belum terasa di Kabupaten Lombok Barat. Padahal, per hari Senin, 18 Mei 2026, nilai tukar rupiah resmi mencapai angka lebih dari 17.600 per dolar AS.

Salah satu komoditas yang seharusnya terdampak seperti kedelai, belum menunjukkan tanda-tanda kenaikan harga di Lombok Barat. Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2025, total volume impor kedelai Indonesia tercatat sebesar 2,56 juta ton. Sekitar 86,55 persen impor kedelai berasal dari Amerika Serikat yang mencapai 2,21 juta ton.

Kepala Dinas Perdagangan Lombok Barat, H. M. Adnan mengatakan, berdasarkan pantauan di Pasar Gerung, menunjukkan harga kedelai yang relatif stabil.

IKLAN

“Kalau per hari ini, 18 Mei, harga kedelai impor berkisar di Rp14 ribu rupiah per kilogramnya. Beda seribu dengan yang kedelai lokal, yakni Rp15 ribu, ini sama seperti kemarin,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 18 Mei 2026.

Lebih lanjut, Adnan juga menjelaskan, stabilnya harga kedelai di Lobar kemungkinan besar karena masih rendahnya permintaan untuk konsumsi kedelai, meskipun masih belum ada pengecekan terkait stok.

“Kalau untuk stok kedelai masih belum kami cek. Tetapi kemungkinan karena kebutuhan kedelai juga tidak terlalu dominan menjelang Iduladha ini, jadi permintaan masih kurang dan stok aman,” tambahnya.

IKLAN

Harga Masih Normal

Senada, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Lobar, Lale Widiani juga menyebut, sampai hari ini belum ada tanda-tanda kenaikan harga kedelai impor maupun lokal. “Harga hari ini masih normal, baik kedelai lokal ataupun kedelai impor tidak ada yang naik,” ujar Lale kepada NTBSatu.

Lale juga menyebut, kedelai merupakan satu- satunya bahan makanan yang perlu diimpor dari luar negeri. Untuk bahan yang lain, sejauh ini masih belum ada yang perlu diimpor terlalu banyak.

Hal ini kemungkinan karena konsumsi masyarakat Indonesia terhadap kedelai lebih tinggi karena mereka biasanya mengolahnya menjadi tahu atau tempe. “Ya, tidak ada kenaikan karena yang impor cuma kedelai saja, bahan makanan lain enggak ada,” jelasnya.

Sebagai informasi, beberapa komoditas yang diprediksi akan naik setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, di antaranya gandum dan kedelai. Kedua komoditas tersebut merupakan bahan utama dari makanan, seperti mie dan tahu atau tempe. Kedua makanan tersebut merupakan makanan sehari-hari mayoritas masyarakat Indonesia. (Zani)

Artikel Terkait

Back to top button