KMP Putri Yasmin Diperkirakan Bergeser 39 Mil Laut dari Titik Awal Kebakaran
Lombok Barat (NTBSatu) – Posisi KMP Putri Yasmin diperkirakan terus bergeser sejak terbakar di perairan Selat Lombok. Tim SAR memperkirakan kapal telah bergeser sekitar 39 mil laut dari posisi sebelumnya. Pergerakan tersebut terjadi setelah sistem pelacakan kapal berhenti mengirim sinyal.
Ahli Muda Bidang Kecelakaan Pelayaran dan Penerbangan Basarnas, Rangga Aribowo, menjelaskan tentang pergerakan kapal tersebut. Menurutnya, KMP Putri Yasmin terakhir terpantau melalui sistem AIS pada pukul 21.02 Wita. Setelah itu, sistem AIS kapal tidak lagi mengirimkan posisi.
“Sejak tidak terpantau, kita tidak bisa mendeteksi posisi dia di mana,” kata Rangga, Jumat, 14 Agustus 2026.
Tim kemudian menggunakan perhitungan drift untuk memperkirakan posisi kapal. Perhitungan tersebut memperhitungkan arah arus dan pergerakan kapal setelah kehilangan sinyal.
Bergeser 13,8 Mil dalam 11 Jam
Rangga mengungkap pergeseran kapal terjadi cukup cepat sejak kebakaran. Dalam 11 jam pertama, kapal bergeser sekitar 13,8 mil laut dari titik awal kebakaran.
“Pada waktu 11 jam, dia sudah bergeser 13,8 mil dari titik kedua,” ujarnya.
Pergerakan kemudian terus berlanjut mengikuti arah arus menuju barat daya. Berdasarkan kalkulasi drift, kapal perkiraannya kembali bergeser sekitar 39 mil laut.
Perhitungan tersebut menjadi dasar Tim SAR menentukan area pencarian. Tim kemudian mengerahkan helikopter untuk memeriksa wilayah yang perkiraannya menjadi lokasi kapal.
Helikopter mulai melakukan pencarian sekitar pukul 07.17 Wita. Tim menetapkan area pencarian seluas 100 mil laut persegi di selatan Pulau Bali. Namun, pencarian udara selama sekitar dua jam belum menemukan keberadaan kapal.
“Visibility bagus, terbang stabil, tetapi keberadaan KMP Putri Yasmin tidak terpantau,” kata Rangga, menjelaskan hasil pencarian korban pada hari ketiga.
Kondisi tersebut membuat posisi terakhir kapal masih menjadi tanda tanya. Tim SAR kini mengandalkan kalkulasi pergerakan arus untuk memperluas pencarian.
Gelombang 4-5 Meter Hambat Pencarian
Selain pergerakan arus, kondisi laut juga menjadi tantangan besar bagi operasi SAR. Tim mencatat tinggi gelombang di Selatan Lombok, Nusa Penida, dan Bali mencapai 4-5 meter.
Kondisi tersebut menyulitkan pergerakan kapal pencari di lapangan. Gelombang tinggi juga meningkatkan risiko bagi personel SAR. “Selain mempersulit, faktor alam tersebut juga berisiko bagi tim SAR,” ujar Rangga.
Tim tetap melakukan pencarian berdasarkan hasil kalkulasi dan perkembangan kondisi lapangan. Rangga menjelaskan area pencarian dapat berubah mengikuti perhitungan drift terbaru.
Kapal juga diperkirakan terus bergerak selama masih mengikuti dorongan arus laut. Karena itu, pencarian tidak hanya berfokus pada titik awal kebakaran. Perubahan posisi yang cepat membuat operasi SAR menghadapi dua persoalan sekaligus yakni luasnya area pencarian dan kerasnya kondisi laut. (*)




