Kapten SAR Ungkap Beratnya Evakuasi Korban KMP Putri Yasmin, Ombak Capai 6 Meter
Lombok Barat (NTBSatu) – Proses evakuasi korban KMP Putri Yasmin berlangsung dalam kondisi laut yang tidak bersahabat. Tim SAR harus menghadapi gelombang tinggi saat menuju lokasi penumpang yang terombang-ambing di laut.
Kapten KN SAR 220, Capt. Nurdin, menceritakan kronologi penyelamatannya terhadap 59 korban. Ia mengatakan, timnya menerima laporan dari Vessel Traffic Service (VTS) Lembar. Laporan tersebut masuk sekitar pukul 04.00 Wita pada malam kejadian.
Tim kemudian langsung mengerahkan personel dan kapal menuju lokasi kejadian. Namun, perjalanan menuju titik pencarian menghadapi gulungan ombak setinggi empat hingga enam meter.
“Kita harus berhadapan sama gulungan ombak 4 sampai 6 meter,” kata Nurdin, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat tim harus menghitung posisi kapal secara cermat. Kesalahan mengambil posisi bisa membuat kapal penolong ikut tergulung gelombang.
Tim tidak bisa langsung mendekati korban meski sudah menemukan posisi mereka. Petugas harus menunggu gelombang mereda sebelum mendekati penumpang secara perlahan.
“Kalau kita salah mengambil tindakan atau posisi, mungkin kita tergulung ombak,” ujarnya.
Korban Terseret Arus hingga 12 Kilometer
Nurdin mengatakan, kondisi arus juga mempersulit proses pencarian. Korban terus bergerak menjauh dari lokasi awal setelah meninggalkan KMP Putri Yasmin.
Tim akhirnya menemukan korban sekitar enam mil laut dari titik kejadian. Jarak tersebut setara sekitar 11 hingga 12 kilometer dari posisi awal kapal.
“Jarak dari posisi Putri Yasmin sudah lebih kurang enam nautical mile,” katanya.
Arus di lokasi kejadian bergerak kuat ke arah selatan. Kondisi tersebut memungkinkan korban terseret jauh hingga mendekati wilayah Australia.
“Kalau sudah mengarah ke selatan otomatis berpotensi berbatasan dengan Australia,” ujarnya.
Tim SAR menemukan korban yang mengapung menggunakan sejumlah alat keselamatan. Namun, petugas tidak bisa langsung menaikkan korban ke kapal.
Gelombang besar membuat kapal penolong terus bergerak dan bergoyang. Kondisi itu bahkan berisiko membuat kapal menabrak korban.
Karena itu, petugas memilih teknik evakuasi secara bertahap. Mereka menunggu gelombang landai sebelum mendekati korban.
Petugas kemudian melemparkan tali kepada korban satu per satu. Tim menarik korban perlahan hingga mereka berhasil naik ke kapal.
Korban Sempat Pesimis
Nurdin mengaku kondisi korban menjadi pengalaman paling berkesan dalam operasi tersebut. Sebagian korban terlihat lemas setelah lama bertahan di laut. Beberapa korban bahkan sempat menganggap peluang hidup mereka sangat kecil.
“Sudah banyak yang beranggapan 99 persen itu sudah tidak bisa berharap hidup lagi,” katanya.
Kedatangan tim SAR kemudian kembali membangkitkan semangat para korban. Petugas juga menghadapi tantangan lain ketika menentukan titik pencarian.
Laporan awal menempatkan korban tidak jauh dari lokasi kejadian. Namun, arus dan gelombang membuat posisi mereka berubah cepat.
“Kemarin laporan awal masih dekat, ternyata saat kami sampai sudah jauh ke selatan,” ujarnya. (*)




