Kelurahan Pejeruk Pasang 64 Biopori Cegah Genangan Air
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Kelurahan Pejeruk memperkuat upaya mencegah genangan air melalui pembuatan lubang resapan biopori.
Program ini menyasar lingkungan permukiman warga sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Kelurahan Pejeruk bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram untuk membuat 64 titik biopori. Pemerintah kelurahan membagi titik tersebut secara merata ke delapan lingkungan.
Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Pejeruk, Ni Luh Apsarini Permatasari mengatakan, pihak kelurahan telah menjalankan program tersebut secara langsung bersama masyarakat.
“Masyarakat sudah menjalankan program bidang kesehatan lingkungan, salah satunya pembuatan biopori ini,” ujarnya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Setiap lingkungan memperoleh delapan titik biopori. Petugas memilih lokasi yang memiliki risiko genangan saat hujan deras, terutama pada pekarangan rumah warga.
Kolaborasi Lintas Unsur
Pengerjaan biopori melibatkan petugas Kelurahan Pejeruk, anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas), tim Pusat Pengendalian (Pusdal) wilayah II Balinusra, serta petugas DLH Kota Mataram.
Warga juga ikut mendukung proses pembuatan lubang resapan tersebut. Mereka membantu menyediakan lahan sekaligus menyiapkan peralatan pendukung untuk memperlancar pengerjaan.
“Warga membantu menyediakan lahan serta membawa alat pendukung seperti cangkul atau sekop kecil,” katanya.
Sementara itu, DLH Kota Mataram menyediakan alat utama berupa bor tanah atau auger. Petugas menggunakan alat tersebut secara bergantian untuk menyelesaikan pengerjaan pada delapan lingkungan.
Kelurahan Pejeruk tidak berhenti setelah seluruh titik biopori terpasang. Petugas rutin memantau kondisi lubang agar tetap berfungsi optimal. Pemantauan juga bertujuan memastikan warga ikut menjaga dan merawat biopori.
Tim kelurahan melakukan monitoring melalui kunjungan langsung ke lapangan serta menerima laporan dari para kader lingkungan.
Ni Luh berharap, program 64 titik biopori dapat mendorong masyarakat membuat lubang resapan secara mandiri. Dengan semakin banyak titik biopori, kemampuan lingkungan menyerap air hujan juga semakin besar.
“Kelurahan Pejeruk merencanakan penambahan titik biopori pada tahun ini dan tahun depan, menyesuaikan alokasi anggaran yang disetujui,” pungkasnya.
Respons warga terhadap program tersebut juga cukup tinggi. Sejumlah masyarakat bahkan mengajukan permintaan agar kelurahan membuat lubang biopori pada pekarangan rumah mereka.
Kelurahan Pejeruk berharap partisipasi tersebut terus berkembang sehingga upaya pencegahan genangan tidak hanya mengandalkan program pemerintah, tetapi juga mendapat dukungan melalui swadaya masyarakat. (Japriani)




