Lombok TimurPendidikan

Bawah Pohon Pustaka Dorong Budaya Baca di Lombok Timur

Lombok Timur (NTBSatu) – Komunitas Bawah Pohon Pustaka mendorong budaya baca masyarakat di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Komunitas ini menghadirkan ruang baca publik dengan koleksi buku yang bisa diakses masyarakat secara gratis.

Bawah Pohon Pustaka rutin membuka lapak baca di ruang publik. Kegiatan tersebut berlangsung setiap pekan, terutama saat Car Free Day (CFD).

Lokasinya berpindah antara Taman Rinjani dan Taman Tugu Selong. Komunitas ini memilih ruang publik dan tempat wisata agar masyarakat lebih mudah mengakses buku.

IKLAN

Salah satu pengurus Bawah Pohon Pustaka, Rizky Pradana mengatakan, komunitas tersebut berawal dari keresahan melihat banyak buku pribadi yang jarang dimanfaatkan.

“Di rumah banyak buku, cuma banyak orang di luar sana belum punya dan ingin membaca,” ujarnya, kemarin.

Komunitas itu awalnya berjalan tanpa nama. Tiga orang menjadi penggagas kegiatan tersebut dan mengumpulkan koleksi buku pribadi untuk dibaca masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan lapak baca mendapat respons dari masyarakat. Komunitas kemudian memperluas koleksi hingga mencakup buku anak-anak, novel, dan berbagai genre bacaan lainnya.

Saat ini, Bawah Pohon Pustaka memiliki sekitar 15 pengurus. Koleksinya mencapai lebih dari 160 buku, belum termasuk buku khusus anak-anak.

“Awalnya kami dari buku anak-anak. Karena cukup banyak yang tertarik, akhirnya kami menambah koleksi dari rumah,” ujarnya.

Selain lapak baca, komunitas tersebut rutin menggelar bedah buku setiap bulan. Mereka juga mengadakan kegiatan menulis dan berkolaborasi dengan komunitas literasi lainnya.

Budaya Literasi Mulai Berkembang

Rizky menilai, perkembangan budaya literasi di Lombok Timur mulai terlihat. Hal itu tampak dari tingginya kunjungan ke lapak baca serta munculnya komunitas-komunitas literasi baru.

“Banyak komunitas literasi yang bermunculan. Kami juga setiap bulan berkolaborasi dengan komunitas lain,” katanya.

Bawah Pohon Pustaka juga menerapkan sistem tukar pinjam untuk masyarakat yang ingin membawa pulang buku. Pengunjung perlu menitipkan buku sebagai jaminan agar koleksi komunitas tetap terjaga.

Komunitas tersebut kini juga mulai mengembangkan sistem peminjaman melalui laman sederhana. Langkah itu diharapkan memudahkan masyarakat melihat koleksi dan mengakses buku yang tersedia.

Rizky mengatakan, kegiatan lapak baca masih berjalan secara swadaya. Sebagian besar koleksi berasal dari buku pribadi pengurus maupun sumbangan dan pinjaman dari rekan-rekan.

Nama Bawah Pohon Pustaka sendiri terinspirasi dari lokasi kegiatan mereka. Lapak baca kerap berlangsung di bawah pepohonan karena dianggap memberikan suasana teduh dan nyaman bagi pembaca. (*)

Artikel Terkait