SeniSumbawa Barat

Gelar PKD KSB 2026, Budayawan Soroti Pergeseran Pakem Seni Tradisional

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) 2026 tidak hanya menjadi panggung pameran kreativitas pelajar, tetapi juga momentum penting menegaskan kembali kemurnian seni dan budaya lokal. 

Budayawan Sumbawa Barat, H. Abdul Gani, menekankan pentingnya menjaga pakem dan filosofi tradisi Sumbawa agar tidak tergerus arus modernisasi.

Di tengah kompetisi seni tingkat SD dan SMP di Halaman Masjid Agung Taliwang, Abdul Gani menyoroti maraknya pengaruh gaya seni kontemporer luar daerah yang mulai mengaburkan pakem asli seni pertunjukan Sumbawa.

IKLAN

Ia menilai, banyak penari maupun pembina seni muda terjebak mengadopsi gerakan luar tanpa memahami filosofi dasar tarian lokal. Menurutnya, setiap gerak dalam tari Sumbawa memiliki etika dan batas-batas tersendiri.

“Gerakan seperti Ngumang memiliki etika khusus. Lutut tidak boleh diangkat tinggi sejajar paha. Gerakan tegas atau mengangkat kaki tinggi hanya berlaku pada tarian ritual khusus, seperti upacara sumpah setia rakyat saat pengangkatan raja,” ujar Abdul Gani, Kamis, 30 Juli 2026. 

Luruskan Tradisi Tutur Sakeco 

Selain tarian, Abdul Gani meluruskan kesalahpahaman publik terkait tradisi tutur Sakeco, khususnya bagian Racik. Beberapa pihak kerap menganggap Racik mengandung unsur negatif atau pornoaksi karena menggunakan perumpamaan simbolis dari alam dan hewan.

Padahal, Racik merupakan bagian dari struktur sastra tutur yang berfungsi sebagai anekdot, kritik sosial, dan sindiran jenaka untuk menyadarkan pendengar menjelang akhir pertunjukan.

“Itu bukan pornografi atau pornoaksi, melainkan anekdot dan sindiran yang dikemas dengan humor universal. Penggunaan istilah perumpamaan binatang atau bagian tubuh seperti papar (area sekitar telinga dan pipi) memiliki makna filosofis tersendiri,” tegasnya.

Guna mencegah penyimpangan pakem pada kompetisi tingkat sekolah ini, panitia bersama para budayawan telah menggariskan aturan ketat sejak tahap technical meeting. Panitia mengimbau seluruh peserta agar tidak membawakan materi atau gerakan yang menyimpang dari norma usia dan adat lokal.

Lebih lanjut, Abdul Gani mendorong Pemkab KSB dan instansi pendidikan untuk tidak sekadar mengandalkan teori kurikulum formal di kelas. Menurutnya, pelestarian budaya yang efektif membutuhkan wadah praktik nyata berupa sanggar seni di setiap sekolah.

“Sekolah harus memiliki sanggar seni sebagai tempat anak-anak berlatih secara langsung dari ahlinya. Tanpa latihan praktik melalui sanggar binaan, potensi pengembangan dan pemahaman seni tradisional anak-anak tidak akan maksimal,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait