Banjir dan Longsor Landa Dua Kecamatan di Lombok Tengah, 168 Jiwa Terdampak
Mataram (NTBSatu) – Bencana ganda berupa banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Lombok Tengah, pada Selasa sore, 7 April 2026, pukul 17.00 Wita. Bencana ini akibat cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai angin kencang.
Bencana ini mengakibatkan setidaknya 42 Kepala Keluarga (KK), atau 168 jiwa mengalami kerugian materi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Tengah, Ridwan Ma’ruf, mengungkapkan penyebab kejadian karena pengaruh cuaca ekstrem, yang melanda wilayah tersebut.
“Telah terjadi bencana banjir dan tanah longsor akibat hujan dengan intensitas lebat serta angin kencang di wilayah Lombok Tengah,” ujarnya pada NTBSatu, Rabu, 8 April 2026.
Berdasarkan laporan dari BPBD NTB, peristiwa ini terjadi hampir serentak sejak pukul 17.00 Wita. Banjir luapan mulai menggenangi pemukiman di Kecamatan Jonggat, tepatnya di Desa Puyung dan Desa Sukarara.
Dampak luapan air yang paling luas di Desa Sukarare, dengan 30 KK atau 120 jiwa terdampak. Sementara di Desa Puyung, berdampak pada 4 KK atau 16 jiwa.
Selain banjir, tanah longsor juga melanda wilayah curam di Kecamatan Batukliang. Material longsor mengancam hunian 8 KK, di Dusun Mertak Waru dan Desa Barabali.
Respons Cepat dan Pemulihan
Hingga Selasa malam, personel gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Lombok Tengah, TNI/Polri, serta aparat desa setempat, masih melakukan asesmen dampak kerusakan.
Saat ini, petugas fokus untuk memastikan keselamatan warga, dan penyaluran kebutuhan mendesak, berupa logistik.
“Upaya koordinasi lintas sektor terus kita untuk mempercepat asesmen dampak bencana di lapangan,” lanjutnya.
Ridwan juga melaporkan jika kondisi di lapangan sudah mulai kondusif, menyusul meredanya hujan.
Namun, ia meminta petugas terus bersiaga untuk mengantisipasi adanya banjir susulan, atau pergerakan tanah lanjutan. Mengingat intensitas hujan di wilayah tersebut masih sulit diprediksi secara pasti.
Waspada Puncak Musim Hujan
Berdasarkan analisis dari BMKG, wilayah NTB saat ini memasuki periode puncak musim hujan. Adanya rentetan bencana imi, menjadi pengingat masyarakat, tentang ancaman bencana hidrometeorologi masih mengintai NTB.
Data Dasarian I April 2026, periode 1 hingga 10 April 2026, menunjukkan adanya peluang curah hujan dengan intensitas tinggi, di atas 50 mm per dasarian, dengan probabilitas 80 hingga 90 persen, di hampir seluruh NTB.
wilayah Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Utara memiliki risiko lebih tinggi. Dengan peluang hujan dengan intensitas ekstrem di atas 100 mm per dasarian, di wilayah tersebut.
Ridwan juga mengimbau, masyarakat yang bermukim di sekitar daerah aliran sungai dan lereng perbukitan, untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra, terutama saat hujan lebat dengan durasi lebih dari satu jam.(Inda)



