Bayang-bayang El Nino “Godzilla” Mengintai, Petani di Lombok Barat Diminta Waspada
Lombok Barat (NTBSatu) – Di tengah optimisme hasil panen yang diprediksi lebih baik dari tahun sebelumnya, ancaman fenomena iklim ekstrem yang disebut El Nino “Godzilla” mulai membayangi sektor pertanian di Lombok Barat.
Dinas Pertanian setempat kini bergerak cepat, mengingatkan para petani untuk bersiap menghadapi potensi kemarau panjang yang datang lebih awal dan berlangsung lebih lama.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Barat, Lalu Moh. Hakam mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya belum dapat menghitung secara pasti indeks produksi. Namun, data sementara menunjukkan capaian panen yang cukup signifikan pada awal tahun.
“Cakupan luasan yang panen di periodisasi bulan Februari dan Maret itu sekitar 13.000 hektare. Di bulan Februari itu yang panen sekitar 5.000 hektare, kemudian di bulan Maret itu 8.000 hektare sehingga totalnya kurang lebih 13.000 hektare,” jelasnya, Senin, 6 April 2026.
Ia menambahkan, siklus pertanian saat ini masih terus berjalan. Lahan yang telah dipanen pada Februari dan Maret kini mulai memasuki masa tanam kedua (MT2), sementara sebagian lainnya bersiap menyongsong panen pada April.
Waspada Godzilla El Nino
Di balik dinamika tersebut, peringatan dari BMKG terkait potensi kemarau panjang menjadi perhatian serius. Bahkan, istilah El Nino “Godzilla” muncul sebagai gambaran kondisi ekstrem yang perkiraannya akan melanda.
“Diperkirakan NTB ini akan kena ‘Godzilla El Nino. Apa itu? ‘Godzilla’ El Nino itu semacam kemarau panjang yang maju dan agak lebih panjang,” ujarnya.
Menurut Hakam, kondisi ini berpotensi berdampak signifikan, terutama bagi wilayah pertanian yang tidak didukung sistem irigasi teknis. Oleh karena itu, pihaknya melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) terus menggencarkan sosialisasi kepada petani agar lebih adaptif dalam menentukan pola tanam.
Saran Tanaman yang Mampu Bertahan
Ia juga menegaskan, petani di luar kawasan irigasi teknis sebaiknya tidak memaksakan diri menanam padi yang membutuhkan banyak air. Sebagai alternatif, pihaknya menyarankan mereka beralih ke komoditas palawija seperti jagung atau kedelai.
“Daerah-daerah yang di luar kawasan irigasi teknis ini sebaiknya dia me-review kembali terkait dengan pola tanamnya. Bisa dia ganti dengan palawija, seperti jagung, kedelai, sehingga tidak menyulitkan mereka dalam kebutuhan pengairannya,” tegasnya.
Meski demikian, Hakam memastikan, wilayah dengan irigasi teknis relatif lebih aman dan masih mampu menopang hingga masa tanam kedua bahkan ketiga. (Zani)



