Produksi Rumput Laut Sumbawa 2025 Menurun Drastis, Pemkab Pasang Target Realistis di 2026
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa mencatat, penurunan tajam realisasi produksi rumput laut sepanjang tahun 2025.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat mengonfirmasi capaian produksi tahun lalu merosot jauh dari target awal. Validasi data terbaru menunjukkan dari target 486.240 ton, realisasi produksi di lapangan hanya menyentuh 153.867,51 ton.
”Bagian validasi data menginformasikan angka produksi menurun drastis. Kondisi lingkungan perairan, masalah bibit, hingga faktor pasar memicu minat pelaku usaha ikut menurun,” ungkap Rahmat kepada NTBSatu, Rabu, 4 Maret 2026.
Menyikapi anjloknya angka tersebut, Pemkab Sumbawa telah memasang target lebih terukur untuk tahun 2026 sebesar 155.406,18 ton. Rahmat menilai, target ini lebih realistis melihat kondisi riil di lapangan saat ini.
”Kami menyesuaikan target tahun ini agar lebih masuk akal. Faktor-faktor lingkungan dan teknis tetap menentukan tercapai atau tidaknya target tersebut,” jelasnya.
Guna mengantisipasi kegagalan serupa, Pemkab akan memperketat pembinaan terhadap pembudidaya, terutama mengenai pengaturan pola tanam. Rahmat meminta petani lebih jeli melihat siklus musim di masing-masing wilayah perairan.
”Setiap musim menghasilkan produksi berbeda dan tidak selalu sama di setiap siklus. Kawasan Tanjung Bele misalnya, memiliki waktu terbaik antara Juli sampai September. Sedangkan wilayah Terujung baru mulai bagus pada Desember,” tambahnya.
Rahmat menjelaskan, pengaturan pola tanam menjadi strategi utama menyiasati kondisi perairan yang kerap berubah. Selain itu, pihaknya tengah mendorong kembali program bantuan sarana dan prasarana dari pemerintah pusat untuk mendongkrak produksi.
Masa Keemasan Produksi Rumput Laut Sumbawa
Ia menceritakan masa keemasan produksi rumput laut Sumbawa sebelum 2018, saat dukungan bibit unggul masih masif. Suplai bibit Kultur Jaringan dari Balai Sekotong yang sangat aktif antara 2010 hingga 2015 menjadi salah satu kunci keberhasilan saat itu.
”Dukungan anggaran dan program bibit kultur jaringan dulu sangat membantu petani. Kami ingin mendorong kembali program seperti itu, agar produksi kembali naik,” tegasnya.
Selain kendala teknis dan bibit, faktor harga menjadi sorotan serius. Saat ini, harga rumput laut di tingkat petani berkisar Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Angka ini merosot tajam jika membandingkannya dengan harga tahun 2023, yang sempat menembus Rp32.000 per kilogram.
”Harga yang bagus membantu petani menutupi biaya produksi. Kami berharap sinergi kebijakan ke depan mampu menstabilkan harga sekaligus meningkatkan stok bibit berkualitas bagi pembudidaya di Sumbawa,” harapnya. (*)



