Mataram (NTBSatu) – Kondisi memprihatinkan ruang kelas SMAN 1 Gunungsari yang rawan roboh, mendapat sorotan DPRD NTB.
DPRD NTB menilai, banyaknya gedung sekolah yang rusak di NTB bukan semata akibat usia bangunan. Namun, kondisi itu mencerminkan keterbatasan fiskal daerah yang membuat rehabilitasi sekolah berjalan lambat.
Anggota Komisi V DPRD NTB, Made Slamet mengatakan, pemerintah provinsi sebenarnya menyadari banyak sekolah membutuhkan perbaikan. Namun, kemampuan anggaran daerah sangat terbatas.
“Kami memahami kondisi fiskal daerah memang sangat kurang,” katanya kepada NTBSatu, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Made, kondisi tersebut terlihat dari sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan berat. Ia mencontohkan SMAN 1 Gunungsari, SMAN 1 Lingsar, hingga SMAN 9 Mataram. Karena itu, ia meminta seluruh sekolah meningkatkan kewaspadaan agar tidak terjadi korban akibat bangunan yang rusak.
“Kami harap sekolah lebih hati-hati menjaga keselamatan siswa,” ujar legislator dari PDIP tersebut.
DPRD Soroti Prioritas Anggaran Pusat
Made menilai, persoalan sekolah rusak tidak bisa hanya tanggung jawab pemerintah daerah. Ia justru menyoroti kebijakan pemerintah pusat yang belum menjadikan rehabilitasi sekolah sebagai prioritas utama. Menurutnya, dana pendidikan seharusnya lebih banyak untuk memperbaiki gedung sekolah yang sudah tidak layak.
“Daerah hampir tidak punya ruang fiskal. Kami masih bergantung pada bantuan pemerintah pusat,” katanya.
Ia menyebut, banyak sekolah masih menunggu anggaran rehabilitasi. Sementara itu, pemerintah pusat justru menjalankan berbagai program baru yang menyerap anggaran besar. Misalnya Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Padahal banyak sekolah membutuhkan perbaikan secepatnya,” ujarnya.
Made menilai, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari penyediaan fasilitas pendidikan yang aman dan layak. Ia berharap pemerintah pusat kembali memprioritaskan rehabilitasi sekolah agar kerusakan bangunan tidak terus bertambah.
Kasus Gunungsari Jadi Alarm
Pernyataan itu muncul setelah SMAN 1 Gunungsari menutup enam ruang kelas karena rawan roboh. Sekolah mengubah 11 ruangan menjadi kelas darurat agar pembelajaran tetap berlangsung. Sebanyak 216 siswa kini belajar di ruang darurat yang memanfaatkan perpustakaan, laboratorium, kantin, hingga area terbuka.
Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyrifin, memperkirakan rehabilitasi enam ruang kelas membutuhkan anggaran sekitar Rp700 juta. Sekolah juga membutuhkan tambahan empat ruang kelas baru agar kegiatan belajar kembali normal.
Sebelumnya, dua ruangan di SMAN 1 Lingsar juga roboh. Dinas Pendidikan NTB kemudian mengakui banyak sekolah memiliki bangunan dengan usia serupa dan berpotensi mengalami kerusakan.
Made menilai, rangkaian peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan anggaran mulai berdampak pada kualitas infrastruktur pendidikan di NTB.
“Daerah sebenarnya sudah tidak mampu. Karena itu kami berharap pemerintah pusat memberi perhatian lebih besar terhadap rehabilitasi sekolah,” tandasnya. (*)




