Langit NTB akan Dihiasi Hujan Meteor Ganda, Simak Jadwal dan Cara Melihat
Mataram (NTBSatu) – Wilayah NTB merupakan salah satu lokasi strategis untuk menyaksikan fenomena astronomi ganda. Fenomena puncak hujan meteor Southern Delta Aquariid dan Alpha Capricornid akan berlangsung pada akhir Juli 2026.
Masyarakat di wilayah NTB dan sekitarnya dapat mengamati atraksi langit malam ini secara langsung tanpa alat bantu optik. Fenomena ini akan mulai pada Rabu, 29 Juli 2026 malam hingga Jumat, 31 Juli 2026 dini hari.
Peneliti Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, membenarkan informasi tersebut. “Dua hujan meteor ini mencapai puncaknya secara bersamaan pada akhir Juli. Indonesia berada pada posisi pengamatan yang sangat strategis,” ujarnya, mengutip Kompas.com pada Selasa, 28 Juli 2026.
Fenomena tahunan ini membawa dua karakteristik meteor yang berbeda. Hujan meteor Southern Delta Aquariid menawarkan intensitas cukup tinggi, yaitu sekitar 20 hingga 25 meteor per jam.
Sementara itu, Alpha Capricornid meski hanya menghasilkan sekitar 5 meteor per jam, sering kali memancarkan bola api (fireball) yang meluncur lebih terang dan lambat di angkasa.
Kedua fenomena ini berasal dari lintasan sisa material komet di orbit Bumi. Material Alpha Capricornid berasal dari Komet 9P/Tempel. Sedangkan Southern Delta Aquariid bersumber dari perlintasan Komet 96P/Machholz.
Waktu Terbaik dan Arah Pengamatan di NTB
Masyarakat di wilayah NTB yang berada di zona Waktu Indonesia Tengah (WITA) dapat mulai mengarahkan pandangan ke langit timur hingga tenggara selepas pukul 22.00 Wita. Kedudukan konstelasi Aquarius dan Capricornus yang menjadi titik asal munculnya meteor akan bergerak makin tinggi di atas horizon seiring berjalannya malam.
”Waktu pengamatan terbaik terjadi pada saat sebelum fajar atau setelah tengah malam. Ketika posisi titik radian sudah berada cukup tinggi di langit,” jelas Thomas.
Thomas memastikan, pengamatan fenomena ini sama sekali tidak memerlukan alat bantu optik seperti teleskop atau teropong. Mata telanjang justru memberi sudut pandang yang lebih luas untuk menangkap kilatan cahaya meteor yang muncul secara acak di angkasa.
Lokasi Ideal dan Tips Pengamatan
Kondisi geografi NTB yang didominasi area perbukitan dan pesisir pantai memberi keuntungan tersendiri bagi para pengamat.
Lokasi yang minim polusi cahaya perkotaan, seperti kawasan Sembalun, Senaru, perbukitan Lombok Selatan, hingga kawasan pesisir Sumbawa, menjadi titik pengamatan yang sangat ideal.
”Untuk bisa melihat fenomena ini secara optimal, ada tiga syarat utama yang harus terpenuhi. Seperti cuaca cerah, pandangan ke langit tidak terhalang, dan lokasi pengamatan jauh dari polusi cahaya,” tegas Thomas.
Thomas menambahkan, fenomena hujan meteor ini tidak berbahaya bagi Bumi karena seluruh sisa debu komet akan terbakar habis di lapisan atmosfer pada ketinggian di atas 80 kilometer.
Ia menyarankan masyarakat meluangkan waktu adaptasi kegelapan sekitar 15 hingga 20 menit agar mata dapat menangkap lintasan cahaya meteor redup dengan lebih jelas. (*)




