Lombok TengahPendidikan

13 Siswa SMAN 3 Praya Tidak Naik Kelas, Dikpora NTB Minta Sekolah Perkuat Pembinaan

Lombok Tengah (NTBSatu) – Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB, Syamsul Hadi, meminta SMAN 3 Praya memperkuat pembinaan dan pengawasan terhadap siswa setelah 13 siswa tidak naik kelas pada tahun ajaran 2025/2026.

Ia menyampaikan hal itu saat mengunjungi SMAN 3 Praya, Senin, 27 Juli 2026. Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat dan pemberitaan media mengenai 13 siswa yang tidak naik kelas.

“Kami melakukan pembinaan dan pengawasan kepada sekolah. Karena ada pengaduan dari masyarakat yang juga sudah diberitakan media, kami ingin mendapatkan penjelasan sebenarnya duduk persoalannya seperti apa,” kata Syamsul kepada NTBSatu.

IKLAN

Setelah mendengar penjelasan pihak sekolah, Syamsul memastikan persoalan tersebut telah selesai. Sebanyak 13 siswa yang tidak naik kelas kini telah melanjutkan pendidikan di sekolah lain.

“Bukan 14, tetapi 13 anak itu sudah pindah sekolah. Mereka sudah selesai. Penyelesaiannya melalui musyawarah sebelumnya,” ujarnya.

Meski begitu, ia meminta SMAN 3 Praya memperkuat pengawasan terhadap siswa. Menurutnya, sekolah perlu mendeteksi lebih awal persoalan yang berpotensi menghambat proses belajar maupun memicu pelanggaran tata tertib.

“Harapan kami kepada SMAN 3 Praya agar lebih mengintensifkan pengawasan dan pembinaan, terutama memitigasi hal-hal yang membuat anak-anak terhambat belajarnya dan mengantisipasi kenakalan sehingga sekolah bisa memberikan layanan sampai anak menamatkan pendidikannya,” katanya.

Pembinaan Harus Lebih Intensif

Syamsul mengatakan, pihak sekolah telah memaparkan kronologi penanganan terhadap 13 siswa tersebut. Sebelum rapat dewan guru menetapkan mereka tidak naik kelas, guru BK, wali kelas, dan pihak sekolah telah melakukan pembinaan serta pendampingan.

“Penjelasan kepada kami, sekolah sudah melakukan berbagai upaya pembinaan dan pembimbingan. Namun, berdasarkan hasil rapat dewan guru, anak-anak ini memang tidak memenuhi kriteria untuk dinaikkan,” ujarnya.

Meski mengapresiasi upaya sekolah, Syamsul menilai pembinaan terhadap siswa tetap perlu diperkuat. Ia meminta sekolah terus membangun komunikasi dengan orang tua dan meningkatkan pendampingan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

“Sudah ada upaya maksimal. Tapi bukan berarti upaya itu sudah sempurna. Saya menghimbau sekolah agar melakukan pembinaan yang lebih intensif, terutama mencegah hal-hal yang menjadi indikasi kenakalan siswa sehingga mereka bisa berkembang seperti siswa lainnya,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait