Opini

Dunia Gen Z NTB: Antara Kecepatan, Kegelisahan, dan Keberanian Menembus Batas

Oleh: Maimunah, S.Pd.

Inilah paradoks Gen Z di NTB hari ini. Mereka adalah generasi digital native yang tidak lagi mengetuk pintu kantor untuk mencari kerja, melainkan menciptakan panggungnya sendiri lewat creator economy dan freelancing. Jempol mereka adalah senjata aktivisme lingkungan, tetapi di saat yang sama, mental mereka bertarung melawan riuhnya ekspektasi di media sosial. Mereka tidak anti kerja keras; mereka hanya menolak hidup dalam sangkar tradisi lama yang mengebiri potensi.

Namun, di balik keberhasilan finansial di usia muda, gawai di sebelah laptopnya menyala redup. Di ruang obrolan anonim itu, ia diam-diam meluapkan kecemasan (anxiety), himpitan ekspektasi keluarga, dan rasa terasing di tengah riuhnya dunia digital.

IKLAN

Inilah realitas Gen Z NTB—generasi yang bertumbuh di antara melesatnya teknologi, menghimpitnya kecemasan eksistensial, dan lahirnya keberanian mendobrak batas tradisi.

Kita kerap menyederhanakan Gen Z (1997–2012): dicap picik sebagai generasi strawberry yang lembek dan rentan, tetapi di saat bersamaan dipuja sebagai pahlawan penyelamat bumi yang paling sadar sosial..

Lantas, di manakah posisi kebenaran yang sebenarnya? Apakah Gen Z di NTB sungguh generasi yang manja, atau justru kita—generasi pendahulu—yang terlalu gagap memahami bahasa, ritme, dan zaman tempat mereka tumbuh dan bernapas?

Perbedaan paling fundamental antara Gen Z dengan generasi terdahulu—Generasi X apalagi Baby Boomers—sangatlah sederhana namun berdampak sistemik: Gen Z tidak pernah mengenal dunia tanpa akses internet.

Jika Boomers NTB terkait surat pos dan Milenial mengenang riuhnya warnet, bagi Gen Z, ingatan paling awal mereka adalah autoplay YouTube, Instagram,Tik Tok  dan grup WhatsApp sekolah.

Dunia Gen Z dibentuk oleh kecepatan tanpa henti—mulai dari arus informasi, tren, hingga cancel culture. Hasilnya, pikiran mereka sangat responsif, lugas, dan alergi pada birokrasi yang bertele-tele.

Sesuai teori Howe & Strauss, Gen Z NTB dibentuk oleh krisis: dari gempa Lombok, pandemi, hingga perubahan iklim. Pengalaman kolektif ini melahirkan dua karakter sejajar: cemas akan masa depan, namun sangat realistis dan pragmatis untuk bertahan hidup.

Jika era 1998 butuh aksi jalanan dan spanduk, Gen Z NTB menyalakan gerakan sosial dari kamar tidur lewat gawai. Tanpa menanti media massa, merekalah media itu sendiri.

Dari isu kerusakan pesisir hingga ketidakadilan sosial di NTB, Gen Z tak lagi mengeluh. Satu unggahan atau video viral mereka sudah cukup memaksa pejabat merespons kilat di hari yang sama.

Gen Z memegang teguh satu doktrin moral: “Diam berarti menyetujui ketidakadilan.” Prinsip inilah yang membuat mereka sangat vokal membicarakan isu-isu yang dahulu dianggap tabu atau terlalu berat untuk anak muda—mulai dari kesetaraan gender, hak-hak pekerja, kesadaran iklim, hingga keterbukaan politik.

Kutipan terkenal dari aktivis iklim muda dunia, Greta Thunberg, merangkum filosofi gerak mereka:

“No one is too small to make a difference.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan di kafe-kafe Mataram atau Sumbawa Besar. Kalimat itu adalah bahan bakar yang membuat siswa SMA dan mahasiswa di NTB berani menyuarakan kritik, menggalang petisi di internet, hingga mengorganisasi aksi bersih-bersih pantai secara mandiri tanpa menunggu suntikan dana sponsor dari pemerintah.

Namun, gelombang aktivisme digital ini tentu memicu pertanyaan retoris yang mendasar: “Apakah riuh rendah dukungan di media sosial benar-benar berbanding lurus dengan perubahan di lapangan, ataukah kita sedang menyaksikan parade ‘slacktivism’—sebuah generasi yang merasa telah mengubah dunia hanya karena menekan tombol ‘bagikan’?

Riset Deloitte membuktikan Gen Z tak sekadar bicara. Lewat boikot produk perusak lingkungan dan dukungan finansial ke UMKM beretika, mereka bertindak langsung menggunakan dompet mereka..

Bagi generasi tua NTB, PNS/BUMN adalah puncak kesuksesan. Namun bagi Gen Z, kepastian itu seperti sangkar. Belajar dari PHK massal saat pandemi, mereka beralih mengejar keterampilan fleksibel yang laku di pasar global

Fenomena baru meledak di NTB: creator economy, freelancer, dan solopreneur. Anak muda Lombok Timur bisa sekaligus menjadi editor agensi asing, penulis, dan pemilik merek pakaian daring—berkantor bebas di kafe hingga Pantai Mandalika.

Gen Z tidak anti kerja keras; mereka hanya butuh makna (meaningfulness). Alasan utama mereka resign jarang karena gaji, melainkan saat kreativitas dipangkas, tak dihargai, dan dibatasi untuk tumbuh.

Kondisi transisi ekonomi baru ini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Dalam sebuah kesempatan berdiskusi mengenai arah pembangunan sumber daya manusia di NTB, Gubernur NTB (Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, S.IP., M.Si.) memberikan penekanan strategis terkait peran vital generasi muda:

“Anak-anak muda NTB hari ini tidak boleh hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Gen Z memiliki kreativitas, daya adaptasi, dan penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama melompati batas-batas ekonomi konvensional menuju NTB yang maju, mandiri, dan berdaya saing global.”

Pernyataan tersebut mengonfirmasi bahwa pola panggung masa depan telah berubah secara permanen. CEO YouTube, Neal Mohan, pernah berseloroh dengan nada serupa:

“The next generation of creators will not ask for permission. They will build their own stage.”

Gen Z NTB tidak lagi mengetuk pintu-pintu kantor pemerintah atau perusahaan besar seraya memohon pekerjaan. Mereka membuat pintunya sendiri, merancang panggungnya sendiri, dan menciptakan lapangan kerja baru bagi kawan-kawan sebayanya melalui pemanfaatan internet.

Di masa lalu, dalam diskursus masyarakat lokal NTB, membicarakan masalah kesehatan jiwa sering kali dipandang stigma negatif. Stres, depresi, atau kecemasan ekstrem kerap dihakimi secara sepihak sebagai bentuk “kurang beribadah”, “kurang bersyukur”, atau sekadar “kurang tangguh”.

Gen Z mendobrak tabu kesehatan mental. Kosakata psikologi seperti anxiety, burnout, hingga healing tak lagi kaku di ruang kuliah, melainkan meluncur santai di TikTok, podcast, hingga warung kopi.

Sisi positif keterbukaan ini mendobrak stigma gangguan jiwa. Gen Z NTB tak lagi malu ke psikolog, peka pada boundaries, dan berani mengambil jeda saat kelelahan fisik maupun mental..

Namun sisi gelapnya tidak kalah mengintai. Algoritma media sosial kerap memenjarakan mereka dalam ruang gema (echo chamber) yang penuh dengan konten keputusasaan, romantitisasi depresi, serta dorongan konstan untuk membandingkan pencapaian hidup dengan standar semu orang lain.

Psikolog klinis ternama, Dr. Jean Twenge, yang mendokumentasikan perubahan perilaku antar-generasi, memberikan catatan yang sangat tajam:

“Gen Z adalah generasi yang paling aman secara fisik sepanjang sejarah modern, tetapi mereka sekaligus menjadi generasi yang paling cemas dan rentan secara mental.”

Pernyataan ini terasa begitu mengena di NTB. Gen Z di daerah ini mungkin tidak mengalami masa-masa perang fisik atau kelaparan ekstrem seperti era kakek-nenek mereka. Namun, mereka dipaksa bertarung melawan perang ekspektasi setiap kali membuka layar gawai.

Fenomena ini yang menjelaskan mengapa tren digital detox, yoga, hingga wisata alam (healing) meledak di kalangan Gen Z NTB. Mereka belajar sebuah kebenaran mendasar jauh lebih cepat dari generasi sebelumnya: menjadi produktif tanpa jiwa yang waras adalah sebuah kesia-siaan.

Inilah bagian yang paling memikat dari Gen Z: mereka adalah generasi yang hidup dalam tumpukan paradoks. Dan uniknya, di dalam paradoks itulah kejujuran serta kompleksitas realitas mereka bersemayam.

Gen Z hidup dalam tiga paradoks utama: memiliki ribuan koneksi digital tetapi canggung bertatap muka, tergiur belanja fast-fashion meski gencar mengampanyekan zero waste, serta ambisius mengejar kebebasan finansial sembari tegas menolak eksploitasi kerja toksik.

Apakah kontradiksi ini menandakan bahwa Gen Z adalah generasi yang munafik? Tentu tidak. Paradoks ini muncul karena mereka dibesarkan di dalam dunia yang juga sarat dengan kontradiksi. Mereka dihujani informasi yang terlalu banyak, disuguhi pilihan yang terlampau luas, dan dibebani standar kesuksesan sosial yang tak masuk akal tingginya.

Akan sangat tidak adil dan naif jika kita hanya menyanjung Gen Z tanpa melihat celah dan kekurangan mereka secara kritis. Gen Z sendiri, jika diajak berdiskusi secara jujur, mengakui bahwa mereka memiliki titik-titik lemah yang krusial.

Ada tiga titik lemah krusial Gen Z: memendeknya rentang perhatian (short attention span) akibat kecanduan konten singkat, ketergantungan harga diri (self-worth) pada validasi angka di media sosial, serta bahaya cancel culture yang mudah berubah menjadi aksi perundungan massal tanpa ruang klarifikasi.

Meskipun demikian, ada satu kelebihan unik dari Gen Z: mereka adalah generasi yang paling cepat melakukan koreksi diri (self-correction). Di NTB, kita menyaksikan betapa anak-anak muda yang dulunya mengagungkan gaya hidup konsumtif dan flexing di media sosial, kini menjadi kelompok yang paling vokal mengampanyekan literasi keuangan, investasi syariah, dan gaya hidup minimalis.

Sering kali kita mendengar frasa klise yang diulang-ulang dalam berbagai mimbar pidato: “Gen Z adalah masa depan bangsa.”

Menganggap Gen Z sekadar “masa depan” adalah cara pandang yang keliru. Gen Z adalah masa kini: merekalah penentu tren pasar, penggerak ekonomi digital NTB, hingga pemilik suara mayoritas dalam politik daerah.

Sejalan dengan ini, novelis ternama Chimamanda Ngozi Adichie pernah memberikan peringatan berharga tentang bahaya cara pandang tunggal:

“The problem with stereotypes is not that they are untrue, but that they are incomplete.”

Stigma terhadap Gen Z bukan bohong, melainkan tidak lengkap. Menstempel Gen Z NTB sebagai “anak manja” itu picik, namun memuja mereka sebagai “generasi tanpa cacat” juga fantasi yang berbahaya.

Kebenarannya membentang di tengah-tengah: mereka adalah manusia-manusia biasa yang sedang berjuang keras tumbuh di tengah zaman yang bergerak sangat tidak biasa.

Tugas generasi terdahulu bukanlah memaksa Gen Z menjadi sama seperti masa lalu. Yang terpenting adalah menurunkan ego, memahami bahasa serta ketakutan mereka, lalu berjalan bersama berdampingan.

Zaman terus bergerak cepat tanpa menanti siapa pun. Kini pilihan ada di tangan generasi terdahulu: menyesuaikan kecepatan dan berlari bersama Gen Z, atau nyaman di pinggir jalan hanya sebagai pengkritik yang tertinggal. Keberhasilan keberlanjutan daerah ini sangat bergantung pada sejauh mana kita mau membuka ruang kolaborasi. Menyingkirkan ego kepemimpinan lama adalah langkah awal terbaik untuk menciptakan ekosistem kerja yang saling menguatkan demi mewujudkan masa depan bersama. (*)

Artikel Terkait