Pendidikan

Madrasah di Mataram Uji Coba Full Day School Mulai 19 Januari 2026

Mataram (NTBSatu) – Madrasah di Kota Mataram mulai menerapkan uji coba Full Day School selama dua pekan, sejak tanggal 19 hingga 31 Januari 2026. Program ini akan dievaluasi pada 2 Februari 2026, untuk menentukan keberlanjutan kebijakan tersebut.

Uji coba ini berdasarkan edaran dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram, yang merujuk pada edaran Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram terkait pelaksanaan Lima Hari Sekolah.

“Uji coba ini sudah dibahas dan disepakati bersama Kemenag Kota Mataram, sebagai bagian dari penyesuaian kebijakan sekolah lima hari di kota Mataram,” ujar Penjamin Mutu MAN 2 Mataram, Asri Hidayati, S.Pd., kepada NTBSatu, Kamis, 15 Januari 2026.

Berkaitan dengan penyesuaian, madrasah tidak menambah rombongan belajar juga kelas khusus. Penyesuaian pada pengaturan jam dan distribusi jadwal pelajaran. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat struktur mata pelajaran madrasah rata-rata lebih padat oleh mata pelajar agama.

IKLAN

Sebagai bentuk penyesuaian, jam belajar bakal lebih panjang dari rata-rata sembilan hingga sepuluh jam per hari menjadi 12 jam. Sementara itu, khusus hari Jumat, kegiatan belajar mengajar sampai pukul 11.30 Wita untuk menyesuaikan dengan kegiatan keagamaan.

“Tantangannya di penjadwalan. Kita kan beda dengan sekolah umum, kita memiliki daftar mata pelajaran agama lebih banyak,” jelasnya.

Tantangan Efektivitas Pembelajaran

Dari sisi tenaga pendidik, tantangan utama terletak pada efektivitas pembelajaran di jam-jam siang, termasuk pada jam terakhir. Guru dituntut lebih kreatif, agar siswa tetap fokus dan mampu menyerap materi pelajaran secara optimal.

Adapun kegiatan ekstrakurikuler tetap berlangsung tanpa penambahan waktu khusus, yakni setelah salat Jumat. Asri menyampaikan optimisme terhadap penerapan Full Day School ini, terutama dari sisi manfaat sosial dan keluarga.

Ia menilai, dengan dua hari libur, guru dan siswa memiliki waktu lebih untuk keluarga, khususnya bagi mereka yang berdomisili di luar Kota Mataram.

“Secara psikologis ini cukup positif. Anak dan orang tua bisa sama-sama libur dua hari. Terutama, bagi guru yang berasal dari luar Mataram,” katanya.

Lebih lanjut, mengenai keberlanjutannya pasca uji coba, ia optimis akan berlanjut. “Kami dukung untuk lanjut, karena memang membantu dan menguntungkan bagi kami dari guru juga peserta didik, hal ini sudah kita bicara lama,” tambahnya. (Alwi)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button