Lombok TimurPariwisata

Sempat Diremehkan, Pengacara di Sembalun Sukses Kenalkan Melon Pepino sebagai Agrowisata Baru

Lombok Timur (NTBSatu) – Berawal dari empat pohon yang selamat setelah dikirim dari Sumatera, Hosyatillah berhasil mengembangkan melon pepino menjadi komoditas agrowisata baru di Sembalun, Lombok Timur.

Perjalanan itu tidak mudah. Banyak orang sempat meragukan idenya, namun kini ribuan pohon melon pepino tumbuh di Sembalun dan mulai diikuti petani lain.

Hosyatillah mengaku, mulai mengenal melon pepino pada 2023. Saat itu, ia melihat tren agrowisata di Sembalun terus berkembang.

IKLAN

Wisatawan ramai mengunjungi kebun stroberi hingga kebun sayuran. Kondisi tersebut mendorongnya mencari komoditas baru, yang mampu menambah pilihan destinasi wisata.

“Melihat perkembangan wisata di Sembalun, terutama agrowisata, saya berpikir harus ada komoditas baru yang bisa menarik lebih banyak tamu. Setelah mencari berbagai tanaman dataran tinggi, saya menemukan melon pepino,” ujarnya kepada NTBSatu, Sabtu, 25 Juli 2026.

Latar belakangnya bukan sebagai petani. Pria yang berprofesi sebagai advokat itu, justru mengaku tertarik mencoba hal baru demi mendukung pariwisata di kampung halamannya.

Ia memesan bibit secara daring dari Sumatera Barat. Dari sekitar 15 pohon yang dikirim, hanya empat pohon yang bertahan hidup hingga tiba di Lombok.

Empat pohon itulah yang kemudian ia kembangkan melalui perbanyakan batang, hingga kini menghasilkan belasan ribu pohon di Sembalun.

“Awalnya saya gagal karena mencoba menanam dari biji. Tingkat keberhasilannya sangat kecil. Akhirnya saya membeli pohonnya langsung dan ternyata berhasil dikembangkan,” katanya.

Sempat Diremehkan

Keberhasilan itu tidak langsung mendapat sambutan positif. Hosyatillah mengaku, banyak warga mempertanyakan keputusannya menanam tanaman yang belum dikenal masyarakat.

“Bahkan ada yang meremehkan. Mereka bilang siapa yang mau beli, pasarnya di mana. Saya tetap jalan saja karena ingin membuktikan dulu,” ungkapnya.

Ia sengaja mengembangkan tanaman itu secara tertutup hingga pepino mulai berbuah. Setelah pengunjung datang dan mencicipinya, minat masyarakat perlahan berubah.

Buah pepino memiliki bentuk menyerupai terong atau mentimun, tetapi menawarkan perpaduan rasa melon, blewah, dan mentimun. Keunikan itu membuat banyak wisatawan penasaran.

“Yang membuat pepino spesial itu rasanya. Ada rasa melon, timun, dan blewah dalam satu buah. Segar sekali saat dimakan,” jelasnya.

Jadi Incaran Wisatawan

Kini, kebun pepino miliknya menjadi salah satu tujuan wisata petik buah di Sembalun. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Mereka cukup membayar hasil petikan dengan harga Rp50 ribu per kilogram.

Tingginya minat wisatawan, bahkan membuat Hosyatillah belum berani memasang papan penunjuk menuju kebunnya. Ia khawatir jumlah buah matang belum mampu memenuhi permintaan.

“Waktu musim hujan saja kami sampai menutup kebun karena pengunjung terlalu banyak, sementara buah yang matang terbatas. Sekarang pun saya masih hati-hati mempromosikannya supaya pengunjung tidak kecewa,” katanya.

Melon pepino membutuhkan waktu sekitar tiga setengah bulan sejak tanam hingga panen pertama. Tanaman itu terus menghasilkan buah selama dirawat dengan baik dan dapat bertahan hingga dua tahun.

Meski perawatannya relatif mudah di dataran tinggi seperti Sembalun, Hosyatillah mengakui cuaca menjadi tantangan terbesar. Angin kencang pernah merobohkan satu petak kebunnya saat memasuki puncak panen.

“Waktu itu lebih dari dua ton buah rusak karena badai. Dari situ kami belajar memperkuat penyangga tanaman dan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca,” ujarnya.

Keberhasilan tersebut ikut menarik perhatian petani lain. Tanpa pendampingan khusus, banyak petani mulai menanam pepino karena melihat peluang pasar yang terbuka, terutama dari sektor pariwisata.

Meski demikian, Hosyatillah mengaku, belum pernah mendapat dukungan langsung dari pemerintah.

Ia berharap, pemerintah dapat melihat potensi melon pepino sebagai komoditas baru, yang mampu memperkuat agrowisata Sembalun sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Kalau pemerintah ingin mendukung pengembangannya tentu kami sangat terbuka. Harapan saya sederhana, semoga melon pepino menjadi salah satu daya tarik baru di Sembalun dan bisa menambah penghasilan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait