MAS Siapkan Kongres Internasional Bahasa Sasak
Mataram (NTBSatu) – Majelis Adat Sasak (MAS) mulai mematangkan Kongres Internasional I Base (Bahasa) Sasak. Persiapan itu berlangsung melalui rapat koordinasi di Sekretariat MAS pada Senin, 21 September 2026. Rapat tersebut melibatkan sejumlah unsur masyarakat Sasak.
Panitia membahas pendataan peserta, tamu undangan, konsep acara, hingga keterlibatan tokoh budaya. Kongres hari pertama perkiraannya menghadirkan 1.000 hingga 1.500 peserta.
Panitia akan melibatkan perwakilan dari berbagai Paer (red; wilayah) untuk membahas keberagaman tersebut. Ketua MAS, Lalu Sajim Sastrawan mengatakan kongres harus menjadi ruang bersama masyarakat Sasak.
“Base Sasak ini bukan hanya persoalan bahasa, tetapi bagian dari identitas masyarakat Sasak,” kata Sajim dalam keterangan resminya, Jumat, 25 September 2026.
Menurut dia, perbedaan Paer dan Dialek tidak seharusnya menghambat pertemuan masyarakat Sasak. Sebaliknya, perbedaan tersebut perlu menjadi kekayaan dalam pembahasan kongres.
“Kami ingin semua Paer merasa memiliki kongres ini, bukan hanya menjadi penonton,” ujarnya.
Membawa Tradisi ke Ruang Kongres
Panitia juga menyiapkan konsep acara dengan suasana tradisional atau begawe Sasak. Konsep tersebut agar kongres tetap mencerminkan karakter budaya Sasak.
Panitia ingin masyarakat dari berbagai latar belakang tetap merasa dekat dengan konsep pelaksanaan. Sajim mengatakan bentuk acara harus sejalan dengan nilai budaya yang sering masyarakat bicarakan.
“Kalau kita membicarakan bahasa dan adat Sasak, suasana kongres juga harus mencerminkan nilai Sasak,” katanya.
Rapat turut melibatkan sepuh Sasak, akademisi, budayawan, pemerhati budaya, serta perwakilan perempuan. Panitia juga membuka ruang bagi berbagai dialek dan subdialek bahasa Sasak.
Pelibatan tersebut arahnya untuk mempertemukan pengetahuan lintas generasi. Para sepuh membawa pengalaman tentang bahasa dan adat yang berkembang di masyarakat.
Akademisi membawa perspektif penelitian dan kajian kebudayaan. Sementara itu, budayawan membawa pengalaman dalam menjaga praktik kebudayaan.
Perempuan juga mendapat ruang dalam pembahasan tentang keberlanjutan bahasa dan budaya Sasak. Sajim menilai keberlanjutan budaya membutuhkan keterlibatan banyak unsur masyarakat.
“Kita tidak bisa menjaga bahasa dan budaya hanya dari satu kelompok. Pengetahuan sepuh, akademisi, budayawan, perempuan, dan generasi muda harus bertemu,” lanjutnya.
Tantangan Besar Ada Setelah Kongres
Jumlah peserta yang mencapai ribuan orang juga menghadirkan tantangan teknis bagi panitia. Panitia harus mengatur tempat, konsumsi, keamanan, penerimaan tamu, dan rangkaian kegiatan.
Namun, tantangan terbesar kongres bukan hanya persoalan teknis penyelenggaraan. Kongres juga akan memperhatikan hasil setelah kegiatan selesai.
Tema “Sasak untuk Dunia” membawa tuntutan agar pembahasan menghasilkan langkah yang lebih konkret. Jika tidak, kongres berisiko berhenti sebagai pertemuan besar tanpa tindak lanjut yang jelas.
Karena itu, pembahasan bahasa, adat, dan kebudayaan perlu arahnya pada kebutuhan masyarakat. Sajim mengatakan MAS ingin kongres menjadi titik temu untuk menyusun langkah bersama.
“Kita ingin semangat Sasak untuk Dunia tidak berhenti pada kongres. Harus ada langkah konkret yang bisa kita bawa pulang dan jalankan bersama,” tegasnya. (*)




